Sekolah Raya

Membangun ke-Indonesia-an Melalui Jendela Pendidikan Berbasis Alam Dan Budaya

Kreasi Botol Plastik Bekas

1 komentar
Jumat pagi, 26 Agustus 2014 teman-teman relawan dari Alumni SMP 243 angkatan 91 sudah berkumpul di halaman Sekolah Alam Anak Soleh dengan agenda berkreasi bersama menggunakan botol plastik bekas dengan instruktur Ibu Sarwosri Moertiningsih seorang arsitektur landskap.

Jam 9 pagi kelas kreasi sudah memulai aktifitasnya, bermodalkan botol plastik bekas berbagai macam ukuran dengan alat-alat gunting, kertas warna, lem, kuas, cat dll, Ibu Sarwosri yang akrab dipanggil Itonk dengan sabar menjelaskan dan menginstruksikan tahapan-tahapan berkreasi. Adik-adik sekolah gratis untuk dhuafa sangat antusias menyelesaikan tahap-tahap dan tidak sabar berlomba dengan sesama siswa.

Kreasi Botol Plastik Bekas
Botol plastik bekas dapat dimanfaatkan sebagai tempat pensil, pot bunga dan berbagai kerajinan, saat ini adik-adik siswa Sekolah Alam Tarumajaya akan membuat tempat pensilnya sendiri. 

Dalam kegiatan yang juga merupakan bakti sosial ikatan Alumni SMPN 243 angkatan 91, adik-adik siswa yang mengikuti kelas kreasi ini juga mendapatkan bantuan donasi alat kelepangkapan sekolah berupa tas, alat tulis, pensil warna dan lain-lain.
Kreasi Botol Plastik Bekas
Tidak sedikit siswa yang setelah selesai mencoba membuat lagi dengan tahapan-tahapan sebagaimana telah dicontohkan instruktur. Dengan mengikuti kelas ini adik-adik siswa sekolah diharapkan dapat mengembangkan kreatifitas dengan memanfaatkan berbagai materi yang berada disekelilingnya terutama materi yang menjadi sampah namun dapat memiliki nilai tambah dan fungsi lain. 

Kami dari Sekolah Raya mengucapkan terimakasih kepada Ibu Sarwosri Moertiningsih dan rekan Alumni SMPN 243 angkatan 1991 yang telah berbagi ilmu kreatifitas bersama kami di Sekolah Alam Anak Soleh.

Kreasi Botol Plastik Bekas alumnis SMP 243 sekolah raya
foto bersama seusai kelas
Foto-foto kegiatan dapat dilihat selengkanya di SINI (Album Facebook)

1 komentar :

Posting Komentar

Ainy Fauziyah: Membangun Cita, Menumbuhkan Cinta

2 komentar


Ainy Fauziyah: Membangun Cita, Menumbuhkan Cinta

26 Agustus 2014 – Setelah lama dinanti-nanti, akhirnya sekolah alam anak soleh bisa dikunjungi oleh wanita hebat yang menginspirasi kita semua. Siapa yang tidak kenal dengan Bunda Ainy Fauziyah? Motivatoryang banyak mendapatkan penghargaan  sebagai wanita yang menginspirasi, mengedukasi dan memberdayakan. Siapa sangka orang seperti beliau akan datang untuk berbagi kesenangan dan motivasi untuk kita semua yang datang pada saat itu?

Bunda Ainy Fauziyah datang seperti bukan sebagai tamu kehormatan yang harus serba dilayani, terlihat dari kepribadiannya yang sederhana, lembut dan selalu tersenyum. Setelah sampai beliau langsung bergegas untuk berbenah ruangan yang akan dipakai untuk beliau menebar ilmu dan inspirasi. Bahkan anak nya sendiri yang dibawa beliau untuk mendampingi tidak ragu untuk mengepel ruangan tersebut. Ini membuat saya kaget dan sedikit malu sih. Hehe

Waktu telah menunjukkan pukul 13.00 dan acara pun dimulai. Anak-anak pun memasuki ruangan. Setelah dibuka oleh moderator dan beberapa sambutan, termasuk Irwan yang mengaji dan Ridwan yang memimpin do’a, Bunda Ainy pun memulai kelas motivasinya.

Cita Cintaku, itulah tema yang dibawakan oleh Bunda Ainy. Beliau mencoba untuk memberikan motivasi dengan bercerita secara perhalan setelah sedikit mencairkan suasana dengan intro yang cukup ampuh untuk membuat anak-anak terbawa suasana. Tidak sedikit anak-anak yang hadir menjawab setiap pertanyaan maupun yang bercerita tentang Cita-cita dan masa depan mereka dengan antusias.

Ainy Fauziyah di sekolah alam dhuafa

Intinya, saya menangkap bahwa yang ingin Bunda Ainy sampaikan kepada anak-anak adalah cita-cita bukan hanya sekedar ucapan dan tidak cukup dengan perbuatan, tapi juga harus mencintai apa yang kita cita-citakan itu.

Terima kasih sudah memotivasi kami dan menjadi inspirasi kami, Bunda!

Ainy Fauziyah sekolah raya

2 komentar :

Posting Komentar

Mahasiswa Korea Jadi Relawan

Tidak ada komentar
Mahasiswa Chatolic University of Daegu Korea Jadi Relawan di Sekolah Alam

KBRN, Bekasi : Untuk merayakan Natal, enam orang  mahasiswa dari Chatolic University of Daegu Korea, menjadi relawan selama dua hari di Sekolah Alam Anak Soleh di Desa Setia Asih, Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Enam orang mahasiswa tersebut, dua diantaranya asal Indonesia, berbaur dengan para pengajar di sekolah gratis yang dikhususkan bagi anak dhuafa dan yatim piatu tersebut.

Mereka mengajarkan berbagai hal, dari mulai bahasa Korea, menulis dengan huruf Korea, menggambar dan menyanyi lagu Korea khusus untuk anak-anak.

"Selama dua hari sejak tanggal 23 Desember, mahasiswa asal Korea menjadi relawan pengajar. Kegiatannya lebih banyak fun saja untuk menghibur anak-anak," kata Abdul Khair, Kepsek Sekolah Alam Anak Soleh, Rabu (24/12/2014).

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Taman Baca Masyarakat untuk Banjarnegara

Tidak ada komentar
TBM (Taman Baca Masyarakat) merupakan sarana pembudayaan kegemaran membaca masyarakat yang menyediakan dan memberikan layanan di bidang bahan bacaan. Dilengkapi dengan ruangan untuk membaca, diskusi, bedah buku, menulis, dan kegiatan literasi lainnya, dan didukung oleh pengelola yang berperan sebagai motivator. Pembangunan TBM merupakan wujud dari upaya penguatan dan perluasan budaya membaca karena buku adalah salah satu cara untuk mendidik generasi berikutnya, menanamkan kepribadian, etos kerja, dan integritas diri. Bacaan yang baik akan membuka mata, dan menumbuhkan antusiasme anak-anak hingga orang dewasa. Oleh karena itu diharapkan masyarakat akan tumbuh dengan pemahaman yang baik melalui buku-buku baik tersebut. Selain itu TBM dapat pula dijadikan salah satu sarana edukasi informal diluar sekolah dan lembaga pendidikan lainnya, oleh sebab itu berdirinya TBM di suatu lingkungan bermasyarakat menjadi sebuah urgensi dalam upaya menumbuhkan budaya literasi, nilai-nilai sosial, dan edukasi.

Jambore Anak Tangguh Banjarnegara

Taman Baca Masyarakat untuk Banjarnegara
Relawan di Banjarnegara
Sekolah Raya sebagai sebuah jejaring komunitas yang fokus terhadap kegiatan sosial berbasis pendidikan, menginisiasi pembangunan TBM di desa Jemblung, Banjarnegara.Bencana alam longsor di Banjarnegara pada tanggal 13 Desember lalu telah meluluhlantakkan desa Jemblung, ratusan penduduk kehilangan tempat tinggal dan mangalami trauma psikososial. Pembangunan TBM di desa Jemblung merupakan upaya program recovery paska bencana. Dalam jangka panjang, eksistensi TBM diharapkan mampu mengembalikan roda kehidupan sosial masyarakat dalam upaya pemulihan desa  serta dapat mengembalikan rasa optimisme dan percaya diri masyarakat melalui buku-buku inspiratif dan kegiatan edukatif diTBM.

Taman Baca Masyarakat untuk Banjarnegara
Relawan di Banjarnegara
Taman Baca Masyarakat untuk Banjarnegara
Relawan di Banjarnegara
TUJUAN
1. Menumbuhkan budaya literasi;
2. Menciptakan ruang edukasi, meningkatkan kreatifitas, dan sosialisasi bagi masyarakat setempat;
3. Sebagai upaya recovery paska bencana.

KEGIATAN
Proses identifikasi, perencanaan, dan pengumpulan donasi dimulai pada bulan Desember 2014 dan penyerahan donasi pembangunan TBM secara simbolis akan dilaksanakan tanggal 29 Desember 2014 pada saat penutupan acara “Jambore Anak Tangguh” (merupakan serangkaian kegiatan Sekolah Raya dalam upaya pemulihan trauma psikososial bagi anak-anak korban bencana longsor di Banjarnegara).

KONSEP TAMAN BACA MASYARAKAT
TBM terdiri dari 3 besaran ruang dengan taman bermain di depan bangunannya. Adapun ruangan tersebut adalah:

Ruang Baca
Berisi koleksi buku-buku TBM dan sebagai ruang membaca,terdapat sofa ataupun bisa membaca secara lesehan
Ruang Kreasi
Terdapat mading kreasi sebagai display pameran kreasi anak/masyarakat di bidang literasi atau ketrampilan lainnya, terdapat lemari yang berisi mainan edukatif sebagi penunjang kegiatan edukasi di TBM. Ruang kreasi juga sebagai tempat apresiasi dari karya literasi (misalnya mendongeng).

Kegiatan ini merupakan kegiatan bersama yang melibatkan banyak pihak, sehingga keberhasilan kegiatan ini tidak akan terwujud tanpa dukungan, bantuan dan kerjasama dari berbagai pihak dalam penyelenggaran.

PARTISIPASI
Bantuan dapat diserahkan secara tunai maupun transfer melalui rekening:
a.n MUHAMMAD ANWAR
BCA # 2060 149651
CP: 0889 1676 309

Proposal lengkap dapat diunduh di SINI [PDF file 414kb]


Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Mengabadikan visual, Menceritakan jejak, Merayakan keberagaman

Tidak ada komentar
sekolah raya Mengabadikan visual, Menceritakan jejak, Merayakan keberagaman

sekolah raya Mengabadikan visual, Menceritakan jejak, Merayakan keberagaman

Minggu, 7 Desember 2014 adalah hari dimana Acara ini berlangsung, ratusan orang yang terdiri dari anak-anak SD sampai orang dewasa  yang berisi para Relawan, Instruktur dan Peserta workshop berbaur menjadi satu. Mereka datang bukan tanpa alasan, mereka datang karena percaya bahwa perubahan positif akan datang, terlebih dalam bidang pendidikan. Tentunya dengan suasana yang suka cita.

Sekolah Raya dengan Project nya yang sedang berlangsung (“MEREKAM JEJAK KAMPUNG DALAM KALENG”) mencoba untuk mengingatkan dan ingin menyelaraskan pandangan bahwa pendidikan tidak harus selalu tentang Matematika, Fisika dan Kimia dengan rumus baku yang bikin pusing kepala. Budaya, peninggalan sejarah, Lingkungan dan Alam pun tak luput dari ruang yang seharusnya di ekspos dalam pembelajaran kita semua. Yang dimana itu termasuk dalam satu point tujuan dari project ini: Meningkatkan dan menumbuhkan kecintaan peserta didik pada kampung tempat tinggalnya.

Workshop Kamera Lubang Jarum di Bundaran HI yang bertepatan dengan Car Free Day kemarin, diselenggarakan oleh Sekolah Raya yang bekerja sama dengan beberapa komunitas seperti: Sekolah Alam Anak Sholeh, Komunitas Lubang Jarum Indonesia , SMP Terbuka Samudera Jaya, Pondok Yatim Darussalam, Sobat Kolong, Sanggar HPPL, KMF Kalacitra, Flamboyan UNJ,  Ranita UIN, Blogfam dan KFB adalah langkah awal untuk mewujudkan harapan yang di cita-citakan. Yaitu menciptakan kepedulian anak-anak terhadap kampung atau lingkungannya sendiri, karena berawal dari rasa peduli, mereka akan tumbuh menjadi orang yang lebih kritis disertai dengan rasa ingin membangun perubahan pada lingkungannya.

Lebih dari 100 anak kesana-kemari untuk mencari objek yang ingin difoto dengan kamera kaleng yang diciptakannya sendiri. Mencari spot yang cantik untuk merealisasikan imaji nya kedalam sebuah kertas foto hitam putih yang tidak sedikit kecewa dengan karya yang dihasilkan karena ada yang over ataupun under setelah melalui tahap develop dikamar gelap dan tentunya lebih banyak dari mereka yang merasa puas dengan karya yang diciptakan, dengan bangga mereka berteriak-teriak untuk menunjukkan kegembiraannya karena merasa berhasil dengan perjuangannya. Seru.

Tidak sampai disitu, teman-teman dari Blogfam pun memberikan tips dengan sharing bagaimana cara membuat sebuah cerita tentang karya-karya lubang jarum yang telah mereka ciptakan. Karena sejujurnya, Kamera Lubang Jarum adalah sebuah media yang menekankan cerita pada setiap lembar karyanya. Tentu saja ini bagus untuk membangkitkan kembali budaya bertutur yang sudah tidak banyak diajarkan disekolah. (Arie Haryana)

Sekolah Raya


Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Sekolah raya: Merayakan Kehidupan

1 komentar
KOMPAS.com - Siang telah menjelang, Selasa (25/11/2014). Riuh suara anak-anak terdengar dari dua ruang kelas Sekolah Dasar Alam Anak Soleh di Desa Setia Asih, Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Sekitar 90 siswa-siswi ditampung dalam dua ruangan yang masing-masing berukuran 4 x 6 meter persegi itu. Satu ruangan digunakan para murid kelas I, II, dan III, sementara satu ruangan lain untuk murid kelas IV, V, dan VI.

Ridwan (18) berada di salah satu ruangan tersebut. Ia yang telah bersekolah selama delapan tahun memang sedikit berbeda daripada siswa lainnya.

Tingkahnya berubah saat melihat sebuah kamera digital. Tangan kanannya dijulurkan. Bak fotografer profesional, siswa yang belum bisa membaca ini menyandangkan tali kamera ke bahu, lalu menghadapkan kamera ke teman-temannya.

Klik. Setelah mengambil foto dengan posisi diagonal, kamera lalu ditegakkan, mencoba teknik portrait. ”Ridwan juga tahu bagaimana mengukur pencahayaan. Kapan foto itu bisa backlight atau tidak,” ucap Agustian (41), salah satu pendiri sekolah alam ini. ”Ia bahkan pernah memenangi lomba foto lubang jarum yang kami adakan.”

Ridwan dan siswa lainnya memang mendapatkan pelajaran tematik berupa fotografi, khususnya memotret dengan kamera lubang jarum.

Kamera yang bisa dibuat dari kaleng bekas sebagai bodi kamera, lempengan aluminium sebagai rana, dan plakban yang menjadi penutup rana itu menjadi kegiatan paling disukai Ridwan dan kawan-kawannya.

Dari kamera lubang jarum itu, Nugraha (15), salah satu teman seangkatan Ridwan, telah didaulat menjadi instruktur termuda Komunitas Lubang Jarum Indonesia.

Nugraha adalah lulusan pertama sekolah alam itu yang kini duduk di kelas II SMP Terbuka, Tarumajaya. Remaja ini pernah mewakili teman-temannya dalam festival foto bertaraf internasional di Bali tahun 2013.

Selain kamera lubang jarum, siswa-siswa di sekolah gratis ini juga diajarkan bercocok tanam di halaman depan sekolah. Meski hanya di sebidang tanah, teknik yang digunakan telah modern, yaitu teknik fertigasi. Teknik ini singkatan dari fertilitas dan irigasi, bagian dari metode hidroponik yang menghemat tempat dan pupuk, tetapi hasilnya optimal.

Sekolah ini, kata Agustian, sengaja mengajarkan hal-hal itu agar siswa-siswa memiliki kemampuan yang bisa diandalkan. Dengan demikian, mereka kelak bisa mandiri dan keluar dari lingkaran kemiskinan. Pasalnya, orangtua para siswa ini sebagian besar hanya bekerja sebagai buruh, pembantu, atau pemulung.

Berkat relawan

Sekolah alam ini terletak sekitar 10 kilometer dari Kota Bekasi atau 27 km dari Jakarta, didirikan tahun 2006. Hingga saat ini, sekolah alam tersebut empat kali berpindah tempat.

”Awalnya kami menyewa sebuah rumah, lalu pindah ke rumah warga yang kosong karena kontraknya habis. Kami juga pernah bersekolah di mushala,” kata Fitri Yanhi, satu dari tujuh guru di sekolah ini.

Para guru itu digaji sebesar Rp 300.000 per bulan dari sumbangan donatur. Gaji tersebut baru mulai mereka dapatkan tahun 2010, atau empat tahun sejak sekolah berdiri.

Sekolah gratis ini memang berbeda dengan sekolah lain. Di luar pendanaan yang mengandalkan donatur tak tetap, setiap akhir pekan sejumlah relawan datang mengajarkan hal baru.

Selain itu, sekolah ini terbuka bagi siapa saja. Setiap orang dengan beragam latar belakang agama, suku, dan ras bisa menjadi murid, guru, atau relawan.

Pada awal Desember mendatang, misalnya, sekolah ini akan kedatangan mahasiswa dari Universitas Katolik Daegu, Korea Selatan. ”Perbedaan itu pelengkap untuk memberikan perspektif yang luas terhadap kehidupan,” kata Agustian.

Bima (24), relawan yang telah ikut sejak 2013, tak pernah merasa ada masalah dengan perbedaan tersebut.

Sekolah raya

Keinginan untuk berbagi dan menularkan semangat yang ada dari sekolah alam ini mendapat sambutan dari sejumlah komunitas. Pada September lalu, 12 komunitas mengukuhkan diri dalam sebuah wadah yang mereka namakan Sekolah Raya.

Bersama komunitas yang tersebar mulai dari Bekasi, Jakarta, hingga Kota Malang di Jawa Timur, Sekolah Raya ingin memberi pengajaran kepada anak-anak jalanan, anak yatim, dan anak-anak tanpa materi berlebih lainnya.

Nana Zuri, Direktur Program Sekolah Raya, menyampaikan, setiap komunitas yang tergabung dalam Sekolah Raya bukan komunitas baru. Mereka mempunyai visi yang sama setelah melihat perkembangan kurikulum dari sekolah alam.

Hingga saat ini telah ada sekitar 400 relawan dari sejumlah komunitas yang tergabung dalam Sekolah Raya. Satu hal yang ditekankan dalam setiap program pengajaran, hal yang didapatkan harus dibagi dan diajarkan kepada orang lain.

Mereka tak ingin anak-anak itu hanya menerima tanpa berbuat sesuatu. Sebab, mereka menyadari, berbagi dan menerima adalah satu-kesatuan yang utuh.


CATATAN:
Tulisan ini pernah dimuat dengan judul yang sama di Harian Kompas edisi Senin (1/12/2014).


Tulisan ini adalah copy dari artikel Kompas berjudul Sekolah Alam Bekasi: Melintas Batas, Merayakan Kehidupan (Jumat, 5 Desember 2014) Oleh Saiful Rijal Yunus. http://megapolitan.kompas.com/read/2014/12/05/19245711/Sekolah.Alam.Bekasi.Melintas.Batas.Merayakan.Kehidupan

Sekolah raya Merayakan Kehidupan kompas

1 komentar :

Posting Komentar

HUNTING BARENG KAMERA LUBANG JARUM

Tidak ada komentar
HUNTING BARENG KAMERA LUBANG JARUM


7 Desember 2014 Sekolah Raya akan mengadakan Hunting Bareng Kamera Lubang Jarum, ini merupakan kegiatan memotret objek bebas yang ada di sekitar Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, bersamaan dengan car free day. Kegiatan ini bertujuan untuk mengajak peserta didik Sekolah Raya agar lebih mahir menggunakan Kamera Lubang Jarum serta melatih peserta didik untuk dapat menggali informasi mengenai objek yang diambil, kemudian menuliskan cerita tentang objek yang sudah direkam menggunakan Kamera Lubang Jarum. Karena dalam projek “MEREKAM JEJAK KAMPUNG DALAM KALENG” para peserta didik harus mampu mengambil objek kampung dengan baik kemudian menggali informasi mengenai objek di kampung lalu menuliskannya menjadi sebuah cerita.

Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk mempertemukan para peserta didik dari berbagai afiliasi Sekolah Raya agar terjalin silaturahmi antar sesama peserta didik Sekolah Raya.

TUJUAN KEGIATAN

Mengajarkan konsep dasar fotografi dengan kamera lubang jarum, membuat kamera lubang jarum, dan memotret dengan kamera lubang jarum.
  • Mengenalkan para peserta didik mengenai sejarah kampungnya masing-masing
  • Mengenalkan peserta didik pada seni budaya lokal
  • Mengenalkan peserta didik pada situs/peninggalan sejarah yang ada di kampungnya
  • Meningkatkan dan menumbuhkan kecintaan peserta didik pada kampung tempat tinggalnya
TARGET UTAMA KEGIATAN

  • Pameran Fotografi Kamera Lubang Jarum Sekolah Raya “MEREKAM JEJAK KAMPUNG DALAM KALENG” pada bulan Juli 2015.
  • Launching buku fotografi “MEREKAM JEJAK KAMPUNG DALAM KALENG” pada bulan Juli 2015 bersamaan dengan pameran fotografi dengan tema serupa.
PESERTA
Estimasi peserta 175 orang yang berasal dari:
Sekolah Alam Anak Sholeh, Bekasi
SMP Terbuka Hurip Jaya, Bekasi
Pondok Yatim Darussalam Bekasi
Sobat Kolong, Grogol, Jakarta Barat
Sanggar HPPL, Menteng
KMF Kalacitra
KLJ Indonesia
Flamboyan UNJ
Ranita UIN Jakarta
Dll

Untuk mendukung agenda ini kami membuka kesempatan untuk kawan-kawan untuk perperan serta melalui donasi transportasi dll.

Kontak:
Agus Tian : 081 286 041 960)
Nana : 081 805 044 556)
Anwar : 081 805 022 996)
Email : info@sekolahraya.net



Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Workshop KLJ PYD

2 komentar

23 November 2014 Workshop Kamera Lubang Jarum di Pondok Yatim Daarussalam Wates Kedungjaya Babelan.

 

Sekolah Raya kembali melaksanakan Workshop Kamera Lubang (KLJ) Jarum di Pondok Yatim Daarussalam Wates Kedungjaya Babelan sebagai persiapan untuk menyamakan kompetensi softskill dan hardskill dalam membuat Kamera Lubang Jarum. Sebagai kamera, KLJ memiliki kemampuan yang sama dengan kamera pada umumnya, KLJ yang digunakan adalah kamera buatan sendiri yang lebih murah dan memiliki keterikatan dengan pembuatnya sebagai proses kreatif hasil karyanya sendiri.

Workshop Kamera Lubang Jarum di Pondok Yatim Daarussalam Wates Kedungjaya Babelan.
Dipandu Kak Nur Hasanah dan Arie Haryana dari Komunitas Lubang Jarum Indonesia (KLJI) dan dari komunitas KFB (Komunitas Fotografi Bekasi) workshop berjalan dengan lancar dengan peserta sebagian besar dari PYD dan SMP Terbuka Samuderajaya.

Workshop Kamera Lubang Jarum di Pondok Yatim Daarussalam Wates Kedungjaya Babelan.
Setelah teori dasar dan pembuatan selesai masing-masing siswa dibagi beberapa kelompok dengan dipandu pembimbing kelompok untuk proses memotret pertama kalinya, dengan instruksi pengaturan jarak dan lama bukaan kamera beragam maka masing-masing siswa akan memiliki pengalaman mengukur komponen jarak dan lamanya pencahayaan.

Setelah hasil memotret telah dicetak maka pembimbing akan menjelaskan apa yang terjadi dengan media rekam berupa kertas foto sensitif cahaya untuk kemudian siswa akan diperkenankan memotret sendiri hingga berulang-ulang sampai mendapatkan hasil yang sesuai dengan keinginan mereka.


Workshop KLJ PYD Sekolah RayaWorkshop KLJ PYD Sekolah Raya
Workshop KLJ PYD Sekolah RayaWorkshop KLJ PYD Sekolah Raya
Workshop KLJ PYD Sekolah RayaWorkshop KLJ PYD Sekolah Raya


Hasil foto KLJ masih berwarna hitam putih dimana bagian yang hitam adalah yang terkena cahaya dan yang berwarna putih tidak terkena cahaya, diperlukan kombinasi yang pas untuk menghasilkan gambar yang baik, jarak kamera dengan obyek dan lamanya bukaan lubang jarum dimana sinar matahari akan masuk..
Siswa SMP Terbuka Samudrajaya rata-rata menghasilkan foto-foto yang lebih baik karena ini merupakan kali kedua mereka mengikuti workshop dan merupakan penyempurnaan dari workshop sebelumnya.

Dengan workshop ini siswa diharapkan dapat memahami sistem fotografi sederhana, kreatif dalam berkarya dan pantang menyerah.

Foto kegiatan selengkapnya di Facebook Sekolah Raya

2 komentar :

Posting Komentar

Workshop KLJ dan Belajar Mendongeng

Tidak ada komentar
15 November 2014 Workshop Kamera Lubang Jarum (KLJ) di SMP Terbuka Tarumajaya.

Jauh sebelum fotografi rekaman permanen ditemukan di Prancis (Niepce/1826), metode Kamera Lubang Jarum sudah ada, dikenal dengan “pinhole” disebut juga lubang jarum. Pertama kali dikenal dalam penelitian seorang berkebangsaan Cina, yaitu Mo Ti, 400 sebelum masehi, kemudian dikembangkan oleh Aristoteles 330 sebelum masehi. Beberapa abad kemudian digunakan untuk pengamatan astronomi-150 sebelum masehi oleh  bangsa Yunani. Kemudian dikembangkan sebagai pengamatan matahari oleh Gemma Frisius tahun 1508-1555. Pada tahun 956-1039, diteliti oleh ilmuan optis bangsa Mesir, yang bernama Ibn al-Haitam, dalam buku ilmiahnya “Kitab al-Manazir” lubang jarum ini adalah metode ilmiah untuk mempelajari bias cahaya.


Joseph Nicéphore Niépce menggunakan kamera pinhole, berhasil merekam secara permanen pemandangan dari arah kamarnya, hasil karya ini membutuhkan waktu lebih dari delapan jam! Karena mentode perekaman yang digunakan adalah jenis kamera tidak berlensa, alias pinhole, pada masa itu disebut kamera obscura terbuat dari kayu. Beberapa puluh tahun berikutnya, jenis kamera obscura ini di produksi masal (1881) sebagai kamera sekali pakai  karena tidak menggunakan lensa, kamerapun menjadi sangat murah dan bisa diproduksi masal. Pada abad ke-20, tahun 1940, teknik metode perekaman ini digunakan untuk merekam partikel enerji yang dilepaskan oleh bom atom. Selain itu, teknik inipun digunakan sebagai ekspresi seni fotografi dan sebagai pengantar ilmu optis dalam fotografi masa itu.

Seiring dengan lahir aliran impresionism, aliran secession, pictorial dan straight fotografi, pinhole kehilangan penggemarnya. Hingga akhir tahun 1960-an, di Amerika menjadi trend kembali, yang diusung oleh Eric Renner. Lubang jarum dianggap sebagai ekpresi fotografi alternatif dan mempunyai genre khusus dan mampu bersanding dengan karya lukis di galeri kelas dunia.

Di indonesia, gerakan komunitas lubang jarum ini dicetuskan di Galeri I-see, Jakarta, tanggal 17 Agustus 2002, dalam pertemuan lintas kota; Jakarta, Bandung, Malang, Yogyakarta dan Bali, oleh penggagasnya Ray Bachtiar Drajat dan kawan-kawan, mendirikan Komunitas Lubang Jarum Indonesia (KLJI).

(sumber: http://kljibandung.blog.com/2010/08/26/merakit-merekam-dan-proses-lubang-jarum/)

Hari Sabtu 15 November 2014, adik-adik SMP Terbuka Tarumajaya di Kampung Tambun Bulak Desa Samudera Jaya Kecamatan Tarumajaya Kabupaten Bekasi berkesempatan mengikuti workshop membuat Kamera Lubang Jarum bersama Kakak Nur Hasanah Sawil dari KLJI, Kakak-kakak dari Komunitas Fotografi Bekasi (KFB), Sekolah Raya, Babelaninfo dan komunitas lainnya. 



Workshop KLJ dan belajar mendongeng Sekolah raya
Workshop KLJ dan belajar mendongeng Sekolah raya

Belajar membuat KLJ dimulai dengan bermain ala Pramuka, dibuka oleh H. Agustian dari Sekolah Raya mencoba belajar sambil bermain. Tahap demi tahap proses pembuatan KLJ dipelajari dengan santai dan gembira. Satu persatu mulai berlomba membuat KLJ dipandu kakak-kakak dari KFB dan KLJI akhirnya Kamera Kaleng sudah siap beraksi.

Setelah break istirahat siang, sesi persiapan hunting siap dimulai, Kamar Gelap telah disiapkan oleh kakak-kakak KFB untuk mengisi kertas foto juga untuk proses produksi hasil foto.

Adik-adik dibagi perkelompok dengan pemandu, masing-masing mencoba sesuai instruksi lalu berbaris rapih dengan penuh canda mengantri ke kamar gelap. Berbagai ekspresi adik-adik SMP Terbuka Tarumajaya melihat hasil fotonya. Tidak sedikit warga setempat yang singgah ingin mengetahui kegiatan adik-adik SMP dan ingin menyaksikan hasil foto dari kamera kaleng.

Setelah belajar kamera lubang jarum alias pinhole yang menghasilkan foto hitam putih, kedepannya akan dapat bersama-sama dengan sekolah dan komunitas lain mengadakan kegiatan hunting bersama dalam sebuah proyek tematis yang tetap mengutamakan pembelajaran dan penguatan jaringan antar sekolah dan komunitas.

16 November 2014 Belajar mendongeng dan menulis kreatif.

Babelan minggu pagi masih diliputi gerimis saat kami menjemput Mas Salman Faris dan Mbak Evi Yuniati di Jalan Perjuangan Babelan, sekitar 10 menit kami sudah sampai di Masjid Darrussalam Kp. Wates Desa Kedung Jaya Kecamatan Babelan. Peserta belajar selain dari Pondok Yatim Darrussalam (PYD), warga sekitar dan TPQ di perumahan Vila Gading Harapan 3 ternyata ada juga rombongan siswa dari Rumah Belajar Ilalang di VMG 1 Desa Setia Asih Kecamatan Tarumajaya bersama Bu Irna selaku pengasuh di rumah Belajar Ilalang. Setidaknya hadir 50 adik-adik dari jenjang SD hingga SMA dipelataran Masjid Darrussalam.

Masduki sebagai salah satu pengurus dari PYD membuka agenda belajar bersama dengan memperkenalkan Kak Salman dan Kak Evi dari Komunitas Blogger Family (Blogfam). 

Kolaborasi panitia dari PYD dan lain-lain membuat suasana yang awalnya kaku menjadi cair sehingga proses pembagian kelompok, belajar menulis cerita estafet dan mendalami peran dalam sebuah cerita dibawakan dengan baik oleh Kak Salman dan Mbak Evi.
Menurut Pak Adi, Kepala Sekolah SMP Tarumajaya yang hadir kegiatan ini menambah wawasannya dalam pendekatan-pendekatan metode belajar yang berguna baginya, ia percaya kegiatan ini sangat bermanfaat untuk peserta yang hadir. "Disini anak-anak belajar membuat cerita secara bersama-sama, menumbuhkan kreatifitas imajinasi dan kepercayaan diri menceritakannya dihadapan umum" paparnya.


Workshop KLJ dan belajar mendongeng Sekolah raya
Workshop KLJ dan belajar mendongeng Sekolah raya

"Awalnya mereka akan membuat cerita yang mungkin awalnya dianggap berat namun karena dikerjakan bersama-sama akhirnya cerita tersebut selesai, ke depan mereka akan sampai pada tahap tidak puas dengan cerita yang mereka buat bersama dan akan mencoba membuat cerita sendiri, itu sih yang saya harapkan" ungkap Pak Adi .

Demikian juga komentar Nana Zuri salah satu panitia penyelenggara "Kami berharap adik-adik di PYD dan para peserta akan mengembangkan apa yang sudah mereka dapatkan untuk mulai menulis cerita, mendokumentasikan sejarah dan mendokumentasikan kampungnya sendiri secara tertulis, tapi yang lebih penting mereka memiliki kesempatan untuk belajar menulis dan mendongeng".

Dalam akun twitternya @oranjeholic sempat mengungkapkan "Lelah tapi menyenangkan", sedangkan Kak Salman melalui akun @Salman_Faris menyatakan "Seneng banget hari ini, dan kemaren, rasanya pengen sharing and caring more and more".

Sebelum acara ditutup menjelang pukul 4 sore, adik-adik peserta diminta membuat surat kepada teman-teman di SDN 4 Tanjugori di Pulau Bawean, semoga dengan surat tersebut akan menjadi awal keberanian mereka menuliskan ide-ide dan imajinasinya.


Foto-foto kegiatan dapat dilihat dalam album Facebook Sekolah Raya


Salam


_____________

Kontak yang terlibat dapat melalui akun Twitter:
Komunitas KFB - @KFB_ID
Komunitas Blogfam - @blogfam
Komunitas KLJI - @official_KLJI
Prisma Darrussalam Bekasi - @PRISMA_Bekasi
Pdk Yatim Darrussalam - @PYD_Bekasi
Sekolah Raya - @SekolahRaya
Babelaninfo - @babelaninfo

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Diskusi Mengenai Kekerasan Seksual

Tidak ada komentar
Berita kekerasan seksual telah banyak diberitakan di seluruh media masa baik cetak maupun elektronik. Berita kekerasan seksual semakin nyata ancamannya setelah terjadi kasus pelecehan seksual pada murid di sekolah JIS (Jakarta Internasional School) selanjutnya muncul juga di beberapa wilayah lain. Dari segi peristiwanya sendiri, beberapa kasus sebenarnya kejadiannya sudah berlangsung lama tapi karena tidak terungkap dan belum ada yang melapor kejadian itu terus berulang. Pemberitaan dari media akhirnya membuka kesadaran kita bahwa anak-anak dalam posisi yang rentan menglami tindakan kekerasan seksual, mengingat pelakunya bukanlah orang asing atau orang yang tidak dikenal, banyak kasus pelakunya adalah orang-orang terdekat. Dari berbagai kejadian tersebut perlu respon yang serius dari berbagai pihak.

Memperhatikan dari berbagai kasus yang pernah ada, pelaku kekerasan umumnya adalah orang terdekat, dari keluarga sendiri (ayah,saudara,paman), lalu dari tetangga, dari teman,guru, petugas sekolah dll. Menjadi pertanyaan besar tentunya, bagaimana orang-orang yang mestinya melindungi dan mengayomi serta memberikan contoh justru merusak masa depan anak-anak yang mestinya dilindunginya.

Kalau kita lihat berbagai kasus pelakunya adalah orang-orang terdekat maka perlu upaya pencegahan yang bersifat massif melalui kampanye dan sosialisasi perlindungan terhadap anak dari berbagai bentuk tindakan kekerasan dan diskriminatif. Memaksimalkan kelompok-kelompok masyarakat untuk kampanye dan sosialisasi pencegahan kekerasan terhadap anak bisa menjadi langkah konkrit yang bisa dilakukan untuk mencegah agar berbagai macam kasus terhadap anak tidak terulang. Kelompok pengajian, pkk, posyandu, pertemuan Rt, tim ronda kampung dll merupakan salah satu wadah yang bisa dimaksimalkan.

Selain itu perlu memberi pengetahuan yang cukup bagi keluarga untuk mengantisipasi dan memberi bekal apa yang harus dilakukan jika anak menjadi korban atau mengetahui terjadinya kekerasan seksual dilingkungannya.

Dalam upaya inilah Sekolah Raya mengadakan diskusi mengenai Kekerasan Seksual yang diadakan pada hari Sabtu tanggal 8 November bertempat di Sekolah Alam Anak Soleh dengan nara sumber Ibu Erlinda M. Pd (Sekjen KPAI) dan Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Tarumajaya Bapak AKP Drs Kunto Bagus MM.

Diskusi Mengenai Kekerasan Seksual Sekolah raya

Dalam kegiatan diskusi tersebut para orang tua murid Sekolah Alam Anak Soleh dan para peserta lain terlihat antusias dalam berinteraksi dengan nara sumber, terlebih ketika Ibu Erlinda menjelaskan tips dan cara bagaimana mendeteksi bukti-bukti kekerasan seksual pada tubuh anak-anak.

Diskusi yang berlangsung sejak pukul 9 hingga pukul 12 tersebut di akhiri dengan foto bersama dan pemberian kenang-kenangan dari Sekolah Raya kepada nara sumber.


Diskusi Mengenai Kekerasan Seksual Sekolah rayaDiskusi Mengenai Kekerasan Seksual Sekolah raya

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Workshop Kamera Lubang Jarum

Tidak ada komentar
Pukul 10.00 WIB di Gedung Juang Tambun, Minggu 2 November 2014. Kang Ray Bachtiar Drajat, seorang pendiri dari Komunitas Lubang Jarum Indonesia (Indonesia Pinhole Community) bersama sahabatnya yang juga memakai T-shirt bergambar logo KLJI sedang asik ngobrol dengan Bapak Agustian dari Jejaring Sekolah Raya. Pertemuan yang akrab ini bukan tanpa sebab, karena pada saat itu sedang berlangsung Workshop Kamera Lubang Jarum yang dilaksanakan untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober lalu. Kegiatan ini mengambil tema #Sumpah1000kaleng

Workshop Kamera Lubang Jarum
Peserta Membuat Kamera Lubang Jarum
 Ditemui disela workshop, Arie Haryana dari KLJI menjelaskan bahwa "Kegiatan workshop ini juga merupakan kegiatan fundrising untuk membantu adik-adik di Sekolah Alam Untuk Dhuafa di Tarumajaya Kabupaten Bekasi, jadi selain mendapat ilmu, kegiatan ini juga bermisi sosial untuk menjaga rasa solidaritas dan kesetiakawanan para peserta kepada orang-orang tidak mampu khususnya adik-adik di sekolah gratis seperti Sekolah Alam Anak Sholeh" ungkapnya bersemangat.

Sinar matahari yang terik menyinari Gedung Juang Tambun siang itu tidak menyurutkan semangat para peserta dan panitia, sendiri maupun berkelompok mereka terlihat serius mencoba mengabadikan objek melalui kamera lubang jarum hasil karyanya.

Panitia dari Komunitas Fotografi juga terlihat kewalahan melayani peserta baik saat proses pencucian hasil foto maupun yang mengisi ulang kamera dengan kertas foto emulsi, semua dilakukan manual dan proses seperti ini seperti menjadi keasikan sendiri bagi mereka.

Workshop Kamera Lubang Jarum di Gedung Juang Tambun
Bangga dengan hasil kreatifitas sendiri
Acara yang diagendakan selesai jam 3 sore ini akhirnya molor sampai jam 5 sore. "KLJ membutuhkan sinar matahari, seandainya masih ada matahari sampai jam 7 malam, mungkin sampai jam 7 para peserta akan terus bereksperimen dengan kamera kalengnya" tutur Erza bersemangat. Bahkan disaat panitia sedang bersiap untuk pulang masih berdatangan calon peserta. Salsabila dan 5 orang temannya dari salah satu SMPN Tambun datang dengan harapan dapat mengikuti workshop Kamera Lubang Jarum, sayangnya Salsa dan kawan-kawan terpaksa harus puas diajak mengenal kamera kaleng, cara mengisi film, ruang gelap dan hasil fotonya.
Workshop Kamera Lubang Jarum sekolah raya
"Penasaran melihat bagaimana caranya kaleng ini bisa menghasilkan foto" ungkap Salsa sambil memegang kamera kaleng. "Panitia sudah menyimpan nomor HP saya, nanti mereka kan memberi tahu kalau ada workshop lagi" katanya ceria.

Workshop Kamera Lubang Jarum di Gedung Juang TambunWorkshop Kamera Lubang Jarum di Gedung Juang Tambun
Di antara peserta tampak beberapa bikers dari DTC+ Cikarang juga terlibat pembicaraan dengan panitia dengan rasa ingin tahu yang besar. "Ini pengalaman yang menarik" ungkap Bro Wawan wakil ketua umum District Tiger Cikarang Plus singkat.

Secara keseluruhan acara workshop Kamera Lubang Jarum berjalan lancar dan sukses, peserta berbagai kalangan terdaftar sebagai peserta, kreatifitas memanfaatkan kaleng-kaleng rokok menjadi kamera adalah sebuah pengalaman unik, beberapa peserta dengan bangga menunjukkan karya foto yang mereka hasilkan dari kamera kalengnya.

Pukul 5 sore acara ditutup dengan sesi foto bersama panitia pelaksana dari berbagai komunitas.

Workshop Kamera Lubang Jarum di Gedung Juang Tambun
Foto Bersama Sekolah Raya

foto selengkapnya klik di Album G+ Sekolah Raya

Tidak ada komentar :

Posting Komentar