Sekolah Raya

Membangun ke-Indonesia-an Melalui Jendela Pendidikan Berbasis Alam Dan Budaya

Workshop KLJ PYD

2 komentar

23 November 2014 Workshop Kamera Lubang Jarum di Pondok Yatim Daarussalam Wates Kedungjaya Babelan.

 

Sekolah Raya kembali melaksanakan Workshop Kamera Lubang (KLJ) Jarum di Pondok Yatim Daarussalam Wates Kedungjaya Babelan sebagai persiapan untuk menyamakan kompetensi softskill dan hardskill dalam membuat Kamera Lubang Jarum. Sebagai kamera, KLJ memiliki kemampuan yang sama dengan kamera pada umumnya, KLJ yang digunakan adalah kamera buatan sendiri yang lebih murah dan memiliki keterikatan dengan pembuatnya sebagai proses kreatif hasil karyanya sendiri.

Workshop Kamera Lubang Jarum di Pondok Yatim Daarussalam Wates Kedungjaya Babelan.
Dipandu Kak Nur Hasanah dan Arie Haryana dari Komunitas Lubang Jarum Indonesia (KLJI) dan dari komunitas KFB (Komunitas Fotografi Bekasi) workshop berjalan dengan lancar dengan peserta sebagian besar dari PYD dan SMP Terbuka Samuderajaya.

Workshop Kamera Lubang Jarum di Pondok Yatim Daarussalam Wates Kedungjaya Babelan.
Setelah teori dasar dan pembuatan selesai masing-masing siswa dibagi beberapa kelompok dengan dipandu pembimbing kelompok untuk proses memotret pertama kalinya, dengan instruksi pengaturan jarak dan lama bukaan kamera beragam maka masing-masing siswa akan memiliki pengalaman mengukur komponen jarak dan lamanya pencahayaan.

Setelah hasil memotret telah dicetak maka pembimbing akan menjelaskan apa yang terjadi dengan media rekam berupa kertas foto sensitif cahaya untuk kemudian siswa akan diperkenankan memotret sendiri hingga berulang-ulang sampai mendapatkan hasil yang sesuai dengan keinginan mereka.


Workshop KLJ PYD Sekolah RayaWorkshop KLJ PYD Sekolah Raya
Workshop KLJ PYD Sekolah RayaWorkshop KLJ PYD Sekolah Raya
Workshop KLJ PYD Sekolah RayaWorkshop KLJ PYD Sekolah Raya


Hasil foto KLJ masih berwarna hitam putih dimana bagian yang hitam adalah yang terkena cahaya dan yang berwarna putih tidak terkena cahaya, diperlukan kombinasi yang pas untuk menghasilkan gambar yang baik, jarak kamera dengan obyek dan lamanya bukaan lubang jarum dimana sinar matahari akan masuk..
Siswa SMP Terbuka Samudrajaya rata-rata menghasilkan foto-foto yang lebih baik karena ini merupakan kali kedua mereka mengikuti workshop dan merupakan penyempurnaan dari workshop sebelumnya.

Dengan workshop ini siswa diharapkan dapat memahami sistem fotografi sederhana, kreatif dalam berkarya dan pantang menyerah.

Foto kegiatan selengkapnya di Facebook Sekolah Raya

2 komentar :

Posting Komentar

Workshop KLJ dan Belajar Mendongeng

Tidak ada komentar
15 November 2014 Workshop Kamera Lubang Jarum (KLJ) di SMP Terbuka Tarumajaya.

Jauh sebelum fotografi rekaman permanen ditemukan di Prancis (Niepce/1826), metode Kamera Lubang Jarum sudah ada, dikenal dengan “pinhole” disebut juga lubang jarum. Pertama kali dikenal dalam penelitian seorang berkebangsaan Cina, yaitu Mo Ti, 400 sebelum masehi, kemudian dikembangkan oleh Aristoteles 330 sebelum masehi. Beberapa abad kemudian digunakan untuk pengamatan astronomi-150 sebelum masehi oleh  bangsa Yunani. Kemudian dikembangkan sebagai pengamatan matahari oleh Gemma Frisius tahun 1508-1555. Pada tahun 956-1039, diteliti oleh ilmuan optis bangsa Mesir, yang bernama Ibn al-Haitam, dalam buku ilmiahnya “Kitab al-Manazir” lubang jarum ini adalah metode ilmiah untuk mempelajari bias cahaya.


Joseph Nicéphore Niépce menggunakan kamera pinhole, berhasil merekam secara permanen pemandangan dari arah kamarnya, hasil karya ini membutuhkan waktu lebih dari delapan jam! Karena mentode perekaman yang digunakan adalah jenis kamera tidak berlensa, alias pinhole, pada masa itu disebut kamera obscura terbuat dari kayu. Beberapa puluh tahun berikutnya, jenis kamera obscura ini di produksi masal (1881) sebagai kamera sekali pakai  karena tidak menggunakan lensa, kamerapun menjadi sangat murah dan bisa diproduksi masal. Pada abad ke-20, tahun 1940, teknik metode perekaman ini digunakan untuk merekam partikel enerji yang dilepaskan oleh bom atom. Selain itu, teknik inipun digunakan sebagai ekspresi seni fotografi dan sebagai pengantar ilmu optis dalam fotografi masa itu.

Seiring dengan lahir aliran impresionism, aliran secession, pictorial dan straight fotografi, pinhole kehilangan penggemarnya. Hingga akhir tahun 1960-an, di Amerika menjadi trend kembali, yang diusung oleh Eric Renner. Lubang jarum dianggap sebagai ekpresi fotografi alternatif dan mempunyai genre khusus dan mampu bersanding dengan karya lukis di galeri kelas dunia.

Di indonesia, gerakan komunitas lubang jarum ini dicetuskan di Galeri I-see, Jakarta, tanggal 17 Agustus 2002, dalam pertemuan lintas kota; Jakarta, Bandung, Malang, Yogyakarta dan Bali, oleh penggagasnya Ray Bachtiar Drajat dan kawan-kawan, mendirikan Komunitas Lubang Jarum Indonesia (KLJI).

(sumber: http://kljibandung.blog.com/2010/08/26/merakit-merekam-dan-proses-lubang-jarum/)

Hari Sabtu 15 November 2014, adik-adik SMP Terbuka Tarumajaya di Kampung Tambun Bulak Desa Samudera Jaya Kecamatan Tarumajaya Kabupaten Bekasi berkesempatan mengikuti workshop membuat Kamera Lubang Jarum bersama Kakak Nur Hasanah Sawil dari KLJI, Kakak-kakak dari Komunitas Fotografi Bekasi (KFB), Sekolah Raya, Babelaninfo dan komunitas lainnya. 



Workshop KLJ dan belajar mendongeng Sekolah raya
Workshop KLJ dan belajar mendongeng Sekolah raya

Belajar membuat KLJ dimulai dengan bermain ala Pramuka, dibuka oleh H. Agustian dari Sekolah Raya mencoba belajar sambil bermain. Tahap demi tahap proses pembuatan KLJ dipelajari dengan santai dan gembira. Satu persatu mulai berlomba membuat KLJ dipandu kakak-kakak dari KFB dan KLJI akhirnya Kamera Kaleng sudah siap beraksi.

Setelah break istirahat siang, sesi persiapan hunting siap dimulai, Kamar Gelap telah disiapkan oleh kakak-kakak KFB untuk mengisi kertas foto juga untuk proses produksi hasil foto.

Adik-adik dibagi perkelompok dengan pemandu, masing-masing mencoba sesuai instruksi lalu berbaris rapih dengan penuh canda mengantri ke kamar gelap. Berbagai ekspresi adik-adik SMP Terbuka Tarumajaya melihat hasil fotonya. Tidak sedikit warga setempat yang singgah ingin mengetahui kegiatan adik-adik SMP dan ingin menyaksikan hasil foto dari kamera kaleng.

Setelah belajar kamera lubang jarum alias pinhole yang menghasilkan foto hitam putih, kedepannya akan dapat bersama-sama dengan sekolah dan komunitas lain mengadakan kegiatan hunting bersama dalam sebuah proyek tematis yang tetap mengutamakan pembelajaran dan penguatan jaringan antar sekolah dan komunitas.

16 November 2014 Belajar mendongeng dan menulis kreatif.

Babelan minggu pagi masih diliputi gerimis saat kami menjemput Mas Salman Faris dan Mbak Evi Yuniati di Jalan Perjuangan Babelan, sekitar 10 menit kami sudah sampai di Masjid Darrussalam Kp. Wates Desa Kedung Jaya Kecamatan Babelan. Peserta belajar selain dari Pondok Yatim Darrussalam (PYD), warga sekitar dan TPQ di perumahan Vila Gading Harapan 3 ternyata ada juga rombongan siswa dari Rumah Belajar Ilalang di VMG 1 Desa Setia Asih Kecamatan Tarumajaya bersama Bu Irna selaku pengasuh di rumah Belajar Ilalang. Setidaknya hadir 50 adik-adik dari jenjang SD hingga SMA dipelataran Masjid Darrussalam.

Masduki sebagai salah satu pengurus dari PYD membuka agenda belajar bersama dengan memperkenalkan Kak Salman dan Kak Evi dari Komunitas Blogger Family (Blogfam). 

Kolaborasi panitia dari PYD dan lain-lain membuat suasana yang awalnya kaku menjadi cair sehingga proses pembagian kelompok, belajar menulis cerita estafet dan mendalami peran dalam sebuah cerita dibawakan dengan baik oleh Kak Salman dan Mbak Evi.
Menurut Pak Adi, Kepala Sekolah SMP Tarumajaya yang hadir kegiatan ini menambah wawasannya dalam pendekatan-pendekatan metode belajar yang berguna baginya, ia percaya kegiatan ini sangat bermanfaat untuk peserta yang hadir. "Disini anak-anak belajar membuat cerita secara bersama-sama, menumbuhkan kreatifitas imajinasi dan kepercayaan diri menceritakannya dihadapan umum" paparnya.


Workshop KLJ dan belajar mendongeng Sekolah raya
Workshop KLJ dan belajar mendongeng Sekolah raya

"Awalnya mereka akan membuat cerita yang mungkin awalnya dianggap berat namun karena dikerjakan bersama-sama akhirnya cerita tersebut selesai, ke depan mereka akan sampai pada tahap tidak puas dengan cerita yang mereka buat bersama dan akan mencoba membuat cerita sendiri, itu sih yang saya harapkan" ungkap Pak Adi .

Demikian juga komentar Nana Zuri salah satu panitia penyelenggara "Kami berharap adik-adik di PYD dan para peserta akan mengembangkan apa yang sudah mereka dapatkan untuk mulai menulis cerita, mendokumentasikan sejarah dan mendokumentasikan kampungnya sendiri secara tertulis, tapi yang lebih penting mereka memiliki kesempatan untuk belajar menulis dan mendongeng".

Dalam akun twitternya @oranjeholic sempat mengungkapkan "Lelah tapi menyenangkan", sedangkan Kak Salman melalui akun @Salman_Faris menyatakan "Seneng banget hari ini, dan kemaren, rasanya pengen sharing and caring more and more".

Sebelum acara ditutup menjelang pukul 4 sore, adik-adik peserta diminta membuat surat kepada teman-teman di SDN 4 Tanjugori di Pulau Bawean, semoga dengan surat tersebut akan menjadi awal keberanian mereka menuliskan ide-ide dan imajinasinya.


Foto-foto kegiatan dapat dilihat dalam album Facebook Sekolah Raya


Salam


_____________

Kontak yang terlibat dapat melalui akun Twitter:
Komunitas KFB - @KFB_ID
Komunitas Blogfam - @blogfam
Komunitas KLJI - @official_KLJI
Prisma Darrussalam Bekasi - @PRISMA_Bekasi
Pdk Yatim Darrussalam - @PYD_Bekasi
Sekolah Raya - @SekolahRaya
Babelaninfo - @babelaninfo

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Diskusi Mengenai Kekerasan Seksual

Tidak ada komentar
Berita kekerasan seksual telah banyak diberitakan di seluruh media masa baik cetak maupun elektronik. Berita kekerasan seksual semakin nyata ancamannya setelah terjadi kasus pelecehan seksual pada murid di sekolah JIS (Jakarta Internasional School) selanjutnya muncul juga di beberapa wilayah lain. Dari segi peristiwanya sendiri, beberapa kasus sebenarnya kejadiannya sudah berlangsung lama tapi karena tidak terungkap dan belum ada yang melapor kejadian itu terus berulang. Pemberitaan dari media akhirnya membuka kesadaran kita bahwa anak-anak dalam posisi yang rentan menglami tindakan kekerasan seksual, mengingat pelakunya bukanlah orang asing atau orang yang tidak dikenal, banyak kasus pelakunya adalah orang-orang terdekat. Dari berbagai kejadian tersebut perlu respon yang serius dari berbagai pihak.

Memperhatikan dari berbagai kasus yang pernah ada, pelaku kekerasan umumnya adalah orang terdekat, dari keluarga sendiri (ayah,saudara,paman), lalu dari tetangga, dari teman,guru, petugas sekolah dll. Menjadi pertanyaan besar tentunya, bagaimana orang-orang yang mestinya melindungi dan mengayomi serta memberikan contoh justru merusak masa depan anak-anak yang mestinya dilindunginya.

Kalau kita lihat berbagai kasus pelakunya adalah orang-orang terdekat maka perlu upaya pencegahan yang bersifat massif melalui kampanye dan sosialisasi perlindungan terhadap anak dari berbagai bentuk tindakan kekerasan dan diskriminatif. Memaksimalkan kelompok-kelompok masyarakat untuk kampanye dan sosialisasi pencegahan kekerasan terhadap anak bisa menjadi langkah konkrit yang bisa dilakukan untuk mencegah agar berbagai macam kasus terhadap anak tidak terulang. Kelompok pengajian, pkk, posyandu, pertemuan Rt, tim ronda kampung dll merupakan salah satu wadah yang bisa dimaksimalkan.

Selain itu perlu memberi pengetahuan yang cukup bagi keluarga untuk mengantisipasi dan memberi bekal apa yang harus dilakukan jika anak menjadi korban atau mengetahui terjadinya kekerasan seksual dilingkungannya.

Dalam upaya inilah Sekolah Raya mengadakan diskusi mengenai Kekerasan Seksual yang diadakan pada hari Sabtu tanggal 8 November bertempat di Sekolah Alam Anak Soleh dengan nara sumber Ibu Erlinda M. Pd (Sekjen KPAI) dan Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Tarumajaya Bapak AKP Drs Kunto Bagus MM.

Diskusi Mengenai Kekerasan Seksual Sekolah raya

Dalam kegiatan diskusi tersebut para orang tua murid Sekolah Alam Anak Soleh dan para peserta lain terlihat antusias dalam berinteraksi dengan nara sumber, terlebih ketika Ibu Erlinda menjelaskan tips dan cara bagaimana mendeteksi bukti-bukti kekerasan seksual pada tubuh anak-anak.

Diskusi yang berlangsung sejak pukul 9 hingga pukul 12 tersebut di akhiri dengan foto bersama dan pemberian kenang-kenangan dari Sekolah Raya kepada nara sumber.


Diskusi Mengenai Kekerasan Seksual Sekolah rayaDiskusi Mengenai Kekerasan Seksual Sekolah raya

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Workshop Kamera Lubang Jarum

Tidak ada komentar
Pukul 10.00 WIB di Gedung Juang Tambun, Minggu 2 November 2014. Kang Ray Bachtiar Drajat, seorang pendiri dari Komunitas Lubang Jarum Indonesia (Indonesia Pinhole Community) bersama sahabatnya yang juga memakai T-shirt bergambar logo KLJI sedang asik ngobrol dengan Bapak Agustian dari Jejaring Sekolah Raya. Pertemuan yang akrab ini bukan tanpa sebab, karena pada saat itu sedang berlangsung Workshop Kamera Lubang Jarum yang dilaksanakan untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober lalu. Kegiatan ini mengambil tema #Sumpah1000kaleng

Workshop Kamera Lubang Jarum
Peserta Membuat Kamera Lubang Jarum
 Ditemui disela workshop, Arie Haryana dari KLJI menjelaskan bahwa "Kegiatan workshop ini juga merupakan kegiatan fundrising untuk membantu adik-adik di Sekolah Alam Untuk Dhuafa di Tarumajaya Kabupaten Bekasi, jadi selain mendapat ilmu, kegiatan ini juga bermisi sosial untuk menjaga rasa solidaritas dan kesetiakawanan para peserta kepada orang-orang tidak mampu khususnya adik-adik di sekolah gratis seperti Sekolah Alam Anak Sholeh" ungkapnya bersemangat.

Sinar matahari yang terik menyinari Gedung Juang Tambun siang itu tidak menyurutkan semangat para peserta dan panitia, sendiri maupun berkelompok mereka terlihat serius mencoba mengabadikan objek melalui kamera lubang jarum hasil karyanya.

Panitia dari Komunitas Fotografi juga terlihat kewalahan melayani peserta baik saat proses pencucian hasil foto maupun yang mengisi ulang kamera dengan kertas foto emulsi, semua dilakukan manual dan proses seperti ini seperti menjadi keasikan sendiri bagi mereka.

Workshop Kamera Lubang Jarum di Gedung Juang Tambun
Bangga dengan hasil kreatifitas sendiri
Acara yang diagendakan selesai jam 3 sore ini akhirnya molor sampai jam 5 sore. "KLJ membutuhkan sinar matahari, seandainya masih ada matahari sampai jam 7 malam, mungkin sampai jam 7 para peserta akan terus bereksperimen dengan kamera kalengnya" tutur Erza bersemangat. Bahkan disaat panitia sedang bersiap untuk pulang masih berdatangan calon peserta. Salsabila dan 5 orang temannya dari salah satu SMPN Tambun datang dengan harapan dapat mengikuti workshop Kamera Lubang Jarum, sayangnya Salsa dan kawan-kawan terpaksa harus puas diajak mengenal kamera kaleng, cara mengisi film, ruang gelap dan hasil fotonya.
Workshop Kamera Lubang Jarum sekolah raya
"Penasaran melihat bagaimana caranya kaleng ini bisa menghasilkan foto" ungkap Salsa sambil memegang kamera kaleng. "Panitia sudah menyimpan nomor HP saya, nanti mereka kan memberi tahu kalau ada workshop lagi" katanya ceria.

Workshop Kamera Lubang Jarum di Gedung Juang TambunWorkshop Kamera Lubang Jarum di Gedung Juang Tambun
Di antara peserta tampak beberapa bikers dari DTC+ Cikarang juga terlibat pembicaraan dengan panitia dengan rasa ingin tahu yang besar. "Ini pengalaman yang menarik" ungkap Bro Wawan wakil ketua umum District Tiger Cikarang Plus singkat.

Secara keseluruhan acara workshop Kamera Lubang Jarum berjalan lancar dan sukses, peserta berbagai kalangan terdaftar sebagai peserta, kreatifitas memanfaatkan kaleng-kaleng rokok menjadi kamera adalah sebuah pengalaman unik, beberapa peserta dengan bangga menunjukkan karya foto yang mereka hasilkan dari kamera kalengnya.

Pukul 5 sore acara ditutup dengan sesi foto bersama panitia pelaksana dari berbagai komunitas.

Workshop Kamera Lubang Jarum di Gedung Juang Tambun
Foto Bersama Sekolah Raya

foto selengkapnya klik di Album G+ Sekolah Raya

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Sekolah Bencana Terpadu Ranita UIN

Tidak ada komentar

Sekolah Bencana Terpadu Ranita UIN sekolah raya
Kelompok Mahasiswa Pecinta Lingkungan Hidup dan Kemanusiaan Kembara Insani Ibnu Batutah (KMPLHK RANITA) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 24-26 Oktober 2014 lalu menyelenggarakan kegiatan yang dinamakan SEBENTAR (Sekolah Bencana Terpadu) di Kantor Desa Buni Bakti Kecamatan Babelan. 

Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati hari Pengurangan Resiko Bencana Sedunia yang jatuh pada minggu ke Tiga bulan Oktober yaitu pada Senin 13 Oktober 2014 dan Hari Pengurangan Resiko Bencana Nasional yang oleh BNPB ditetapkan Sepanjang Bulan Oktober.  

Kegiatan SEBENTAR yang memiliki tema“Revitalisasi Nilai-Nilai Budaya Sebagai Upaya Pengurangan Resiko Bencana Berbasis Komunitas” bertujuan meningkatkan kemampuan dan kemandirian masyarakat dalam menanggulangi bencana, demikian ungkap Putri Ayuni S selaku panitia pelaksana."Kegiatan ini bertujuan menciptakan struktur dan alur komunikasi yang jelas dan terarah ketika terjadi bencana" jelas Putri.

Ketua pelaksana Sebentar, Ainun Jaariyah menjelaskan tiga rangkaian acara dalam “SEBENTAR”, "hari pertama kami mengadakan Diskusi Panel Lintas Sektoral yang akan melibatkan Pemerintah Kabupaten Bekasi, Pihak Swasta, Aparatur Desa, Tokoh Masyarakat, Pemuda, LSM, Penggiat Lingkungan dan Kemanusiaan, Civitas Akademika UIN dll". "Sedangkan untuk hari kedua kami akan melaksanakan Pelatihan Kebencanaan untuk sekitar 100 warga serta aparat pemerintahan di Desa Buni Bakti" pungkas Ainun.

Acara hari Ketiga yang merupakan penutupan dan puncak rangkaian acara #SEBENTAR2014, Ranita menggelar Pesta Rakyat berupa Pasar Murah yang terdiri kurang lebih dari 20 Stand Penjualan dengan harga yang terjangkau. Acara hari puncak juga menampilkan Pentas Seni dan Budaya yang diisi oleh penampilan Orasi Kebudayaan oleh Tokoh Masyarakat, Budayawan Nasional Sudjiwo Tedjo, Budayawan Bekasi Kong Guntur, Ratu Pantun Imas Tamborin, Masyarakat setempat serta komunitas budaya dan seni dari Kampus UIN juga meramaikan panggung, acara ditutup dengan penampilan musik dari Jastino ‘n Friends.

Sekolah Bencana Terpadu Ranita UIN sekolah raya
Sekolah Bencana Terpadu desa Buni Bakti Kec Babelan
Sekolah Raya melalui M Anwar diberikan kesempatan memberikan presentasi mengenai Desa Penyangga, Manajemen Mitigasi Bencana Berbasis Kearifan Lokal Desa (Gotong Royong) yang disarikan dari pengalaman menjadi relawan saat erupsi Merapi tahun 2010 tepatnya di lereng Merapi utara (Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah) yang bertujuan mengubah paradigma yang menganggap pengungsi adalah obyek dari dampak suatu bencana yang harus dilayani segala kebutuhan dasarnya, menjadi subyek untuk turut serta berperan aktif dalam masa transisi selama proses evakuasi berlangsung. Jika berminat atas presentasi tersebut dapat mengubungi M Anwar melalui twitter di akun @inianwar


Sekolah Bencana Terpadu Ranita UIN sekolah raya
KMPLHK RANITA dapat dihubungi melalui akun Twitter: @ranita_uin atau Website :www.ranita.org

Tidak ada komentar :

Posting Komentar