Sekolah Raya

Membangun ke-Indonesia-an Melalui Jendela Pendidikan Berbasis Alam Dan Budaya

Workshop KLJ dan Belajar Mendongeng

Tidak ada komentar
15 November 2014 Workshop Kamera Lubang Jarum (KLJ) di SMP Terbuka Tarumajaya.

Jauh sebelum fotografi rekaman permanen ditemukan di Prancis (Niepce/1826), metode Kamera Lubang Jarum sudah ada, dikenal dengan “pinhole” disebut juga lubang jarum. Pertama kali dikenal dalam penelitian seorang berkebangsaan Cina, yaitu Mo Ti, 400 sebelum masehi, kemudian dikembangkan oleh Aristoteles 330 sebelum masehi. Beberapa abad kemudian digunakan untuk pengamatan astronomi-150 sebelum masehi oleh  bangsa Yunani. Kemudian dikembangkan sebagai pengamatan matahari oleh Gemma Frisius tahun 1508-1555. Pada tahun 956-1039, diteliti oleh ilmuan optis bangsa Mesir, yang bernama Ibn al-Haitam, dalam buku ilmiahnya “Kitab al-Manazir” lubang jarum ini adalah metode ilmiah untuk mempelajari bias cahaya.


Joseph Nicéphore Niépce menggunakan kamera pinhole, berhasil merekam secara permanen pemandangan dari arah kamarnya, hasil karya ini membutuhkan waktu lebih dari delapan jam! Karena mentode perekaman yang digunakan adalah jenis kamera tidak berlensa, alias pinhole, pada masa itu disebut kamera obscura terbuat dari kayu. Beberapa puluh tahun berikutnya, jenis kamera obscura ini di produksi masal (1881) sebagai kamera sekali pakai  karena tidak menggunakan lensa, kamerapun menjadi sangat murah dan bisa diproduksi masal. Pada abad ke-20, tahun 1940, teknik metode perekaman ini digunakan untuk merekam partikel enerji yang dilepaskan oleh bom atom. Selain itu, teknik inipun digunakan sebagai ekspresi seni fotografi dan sebagai pengantar ilmu optis dalam fotografi masa itu.

Seiring dengan lahir aliran impresionism, aliran secession, pictorial dan straight fotografi, pinhole kehilangan penggemarnya. Hingga akhir tahun 1960-an, di Amerika menjadi trend kembali, yang diusung oleh Eric Renner. Lubang jarum dianggap sebagai ekpresi fotografi alternatif dan mempunyai genre khusus dan mampu bersanding dengan karya lukis di galeri kelas dunia.

Di indonesia, gerakan komunitas lubang jarum ini dicetuskan di Galeri I-see, Jakarta, tanggal 17 Agustus 2002, dalam pertemuan lintas kota; Jakarta, Bandung, Malang, Yogyakarta dan Bali, oleh penggagasnya Ray Bachtiar Drajat dan kawan-kawan, mendirikan Komunitas Lubang Jarum Indonesia (KLJI).

(sumber: http://kljibandung.blog.com/2010/08/26/merakit-merekam-dan-proses-lubang-jarum/)

Hari Sabtu 15 November 2014, adik-adik SMP Terbuka Tarumajaya di Kampung Tambun Bulak Desa Samudera Jaya Kecamatan Tarumajaya Kabupaten Bekasi berkesempatan mengikuti workshop membuat Kamera Lubang Jarum bersama Kakak Nur Hasanah Sawil dari KLJI, Kakak-kakak dari Komunitas Fotografi Bekasi (KFB), Sekolah Raya, Babelaninfo dan komunitas lainnya. 



Workshop KLJ dan belajar mendongeng Sekolah raya
Workshop KLJ dan belajar mendongeng Sekolah raya

Belajar membuat KLJ dimulai dengan bermain ala Pramuka, dibuka oleh H. Agustian dari Sekolah Raya mencoba belajar sambil bermain. Tahap demi tahap proses pembuatan KLJ dipelajari dengan santai dan gembira. Satu persatu mulai berlomba membuat KLJ dipandu kakak-kakak dari KFB dan KLJI akhirnya Kamera Kaleng sudah siap beraksi.

Setelah break istirahat siang, sesi persiapan hunting siap dimulai, Kamar Gelap telah disiapkan oleh kakak-kakak KFB untuk mengisi kertas foto juga untuk proses produksi hasil foto.

Adik-adik dibagi perkelompok dengan pemandu, masing-masing mencoba sesuai instruksi lalu berbaris rapih dengan penuh canda mengantri ke kamar gelap. Berbagai ekspresi adik-adik SMP Terbuka Tarumajaya melihat hasil fotonya. Tidak sedikit warga setempat yang singgah ingin mengetahui kegiatan adik-adik SMP dan ingin menyaksikan hasil foto dari kamera kaleng.

Setelah belajar kamera lubang jarum alias pinhole yang menghasilkan foto hitam putih, kedepannya akan dapat bersama-sama dengan sekolah dan komunitas lain mengadakan kegiatan hunting bersama dalam sebuah proyek tematis yang tetap mengutamakan pembelajaran dan penguatan jaringan antar sekolah dan komunitas.

16 November 2014 Belajar mendongeng dan menulis kreatif.

Babelan minggu pagi masih diliputi gerimis saat kami menjemput Mas Salman Faris dan Mbak Evi Yuniati di Jalan Perjuangan Babelan, sekitar 10 menit kami sudah sampai di Masjid Darrussalam Kp. Wates Desa Kedung Jaya Kecamatan Babelan. Peserta belajar selain dari Pondok Yatim Darrussalam (PYD), warga sekitar dan TPQ di perumahan Vila Gading Harapan 3 ternyata ada juga rombongan siswa dari Rumah Belajar Ilalang di VMG 1 Desa Setia Asih Kecamatan Tarumajaya bersama Bu Irna selaku pengasuh di rumah Belajar Ilalang. Setidaknya hadir 50 adik-adik dari jenjang SD hingga SMA dipelataran Masjid Darrussalam.

Masduki sebagai salah satu pengurus dari PYD membuka agenda belajar bersama dengan memperkenalkan Kak Salman dan Kak Evi dari Komunitas Blogger Family (Blogfam). 

Kolaborasi panitia dari PYD dan lain-lain membuat suasana yang awalnya kaku menjadi cair sehingga proses pembagian kelompok, belajar menulis cerita estafet dan mendalami peran dalam sebuah cerita dibawakan dengan baik oleh Kak Salman dan Mbak Evi.
Menurut Pak Adi, Kepala Sekolah SMP Tarumajaya yang hadir kegiatan ini menambah wawasannya dalam pendekatan-pendekatan metode belajar yang berguna baginya, ia percaya kegiatan ini sangat bermanfaat untuk peserta yang hadir. "Disini anak-anak belajar membuat cerita secara bersama-sama, menumbuhkan kreatifitas imajinasi dan kepercayaan diri menceritakannya dihadapan umum" paparnya.


Workshop KLJ dan belajar mendongeng Sekolah raya
Workshop KLJ dan belajar mendongeng Sekolah raya

"Awalnya mereka akan membuat cerita yang mungkin awalnya dianggap berat namun karena dikerjakan bersama-sama akhirnya cerita tersebut selesai, ke depan mereka akan sampai pada tahap tidak puas dengan cerita yang mereka buat bersama dan akan mencoba membuat cerita sendiri, itu sih yang saya harapkan" ungkap Pak Adi .

Demikian juga komentar Nana Zuri salah satu panitia penyelenggara "Kami berharap adik-adik di PYD dan para peserta akan mengembangkan apa yang sudah mereka dapatkan untuk mulai menulis cerita, mendokumentasikan sejarah dan mendokumentasikan kampungnya sendiri secara tertulis, tapi yang lebih penting mereka memiliki kesempatan untuk belajar menulis dan mendongeng".

Dalam akun twitternya @oranjeholic sempat mengungkapkan "Lelah tapi menyenangkan", sedangkan Kak Salman melalui akun @Salman_Faris menyatakan "Seneng banget hari ini, dan kemaren, rasanya pengen sharing and caring more and more".

Sebelum acara ditutup menjelang pukul 4 sore, adik-adik peserta diminta membuat surat kepada teman-teman di SDN 4 Tanjugori di Pulau Bawean, semoga dengan surat tersebut akan menjadi awal keberanian mereka menuliskan ide-ide dan imajinasinya.


Foto-foto kegiatan dapat dilihat dalam album Facebook Sekolah Raya


Salam


_____________

Kontak yang terlibat dapat melalui akun Twitter:
Komunitas KFB - @KFB_ID
Komunitas Blogfam - @blogfam
Komunitas KLJI - @official_KLJI
Prisma Darrussalam Bekasi - @PRISMA_Bekasi
Pdk Yatim Darrussalam - @PYD_Bekasi
Sekolah Raya - @SekolahRaya
Babelaninfo - @babelaninfo

Tidak ada komentar :

Posting Komentar