Sekolah Raya

Membangun ke-Indonesia-an Melalui Jendela Pendidikan Berbasis Alam Dan Budaya

Kreasi Botol Plastik Bekas

1 komentar
Jumat pagi, 26 Agustus 2014 teman-teman relawan dari Alumni SMP 243 angkatan 91 sudah berkumpul di halaman Sekolah Alam Anak Soleh dengan agenda berkreasi bersama menggunakan botol plastik bekas dengan instruktur Ibu Sarwosri Moertiningsih seorang arsitektur landskap.

Jam 9 pagi kelas kreasi sudah memulai aktifitasnya, bermodalkan botol plastik bekas berbagai macam ukuran dengan alat-alat gunting, kertas warna, lem, kuas, cat dll, Ibu Sarwosri yang akrab dipanggil Itonk dengan sabar menjelaskan dan menginstruksikan tahapan-tahapan berkreasi. Adik-adik sekolah gratis untuk dhuafa sangat antusias menyelesaikan tahap-tahap dan tidak sabar berlomba dengan sesama siswa.

Kreasi Botol Plastik Bekas
Botol plastik bekas dapat dimanfaatkan sebagai tempat pensil, pot bunga dan berbagai kerajinan, saat ini adik-adik siswa Sekolah Alam Tarumajaya akan membuat tempat pensilnya sendiri. 

Dalam kegiatan yang juga merupakan bakti sosial ikatan Alumni SMPN 243 angkatan 91, adik-adik siswa yang mengikuti kelas kreasi ini juga mendapatkan bantuan donasi alat kelepangkapan sekolah berupa tas, alat tulis, pensil warna dan lain-lain.
Kreasi Botol Plastik Bekas
Tidak sedikit siswa yang setelah selesai mencoba membuat lagi dengan tahapan-tahapan sebagaimana telah dicontohkan instruktur. Dengan mengikuti kelas ini adik-adik siswa sekolah diharapkan dapat mengembangkan kreatifitas dengan memanfaatkan berbagai materi yang berada disekelilingnya terutama materi yang menjadi sampah namun dapat memiliki nilai tambah dan fungsi lain. 

Kami dari Sekolah Raya mengucapkan terimakasih kepada Ibu Sarwosri Moertiningsih dan rekan Alumni SMPN 243 angkatan 1991 yang telah berbagi ilmu kreatifitas bersama kami di Sekolah Alam Anak Soleh.

Kreasi Botol Plastik Bekas alumnis SMP 243 sekolah raya
foto bersama seusai kelas
Foto-foto kegiatan dapat dilihat selengkanya di SINI (Album Facebook)

1 komentar :

Posting Komentar

Ainy Fauziyah: Membangun Cita, Menumbuhkan Cinta

2 komentar


Ainy Fauziyah: Membangun Cita, Menumbuhkan Cinta

26 Agustus 2014 – Setelah lama dinanti-nanti, akhirnya sekolah alam anak soleh bisa dikunjungi oleh wanita hebat yang menginspirasi kita semua. Siapa yang tidak kenal dengan Bunda Ainy Fauziyah? Motivatoryang banyak mendapatkan penghargaan  sebagai wanita yang menginspirasi, mengedukasi dan memberdayakan. Siapa sangka orang seperti beliau akan datang untuk berbagi kesenangan dan motivasi untuk kita semua yang datang pada saat itu?

Bunda Ainy Fauziyah datang seperti bukan sebagai tamu kehormatan yang harus serba dilayani, terlihat dari kepribadiannya yang sederhana, lembut dan selalu tersenyum. Setelah sampai beliau langsung bergegas untuk berbenah ruangan yang akan dipakai untuk beliau menebar ilmu dan inspirasi. Bahkan anak nya sendiri yang dibawa beliau untuk mendampingi tidak ragu untuk mengepel ruangan tersebut. Ini membuat saya kaget dan sedikit malu sih. Hehe

Waktu telah menunjukkan pukul 13.00 dan acara pun dimulai. Anak-anak pun memasuki ruangan. Setelah dibuka oleh moderator dan beberapa sambutan, termasuk Irwan yang mengaji dan Ridwan yang memimpin do’a, Bunda Ainy pun memulai kelas motivasinya.

Cita Cintaku, itulah tema yang dibawakan oleh Bunda Ainy. Beliau mencoba untuk memberikan motivasi dengan bercerita secara perhalan setelah sedikit mencairkan suasana dengan intro yang cukup ampuh untuk membuat anak-anak terbawa suasana. Tidak sedikit anak-anak yang hadir menjawab setiap pertanyaan maupun yang bercerita tentang Cita-cita dan masa depan mereka dengan antusias.

Ainy Fauziyah di sekolah alam dhuafa

Intinya, saya menangkap bahwa yang ingin Bunda Ainy sampaikan kepada anak-anak adalah cita-cita bukan hanya sekedar ucapan dan tidak cukup dengan perbuatan, tapi juga harus mencintai apa yang kita cita-citakan itu.

Terima kasih sudah memotivasi kami dan menjadi inspirasi kami, Bunda!

Ainy Fauziyah sekolah raya

2 komentar :

Posting Komentar

Mahasiswa Korea Jadi Relawan

Tidak ada komentar
Mahasiswa Chatolic University of Daegu Korea Jadi Relawan di Sekolah Alam

KBRN, Bekasi : Untuk merayakan Natal, enam orang  mahasiswa dari Chatolic University of Daegu Korea, menjadi relawan selama dua hari di Sekolah Alam Anak Soleh di Desa Setia Asih, Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Enam orang mahasiswa tersebut, dua diantaranya asal Indonesia, berbaur dengan para pengajar di sekolah gratis yang dikhususkan bagi anak dhuafa dan yatim piatu tersebut.

Mereka mengajarkan berbagai hal, dari mulai bahasa Korea, menulis dengan huruf Korea, menggambar dan menyanyi lagu Korea khusus untuk anak-anak.

"Selama dua hari sejak tanggal 23 Desember, mahasiswa asal Korea menjadi relawan pengajar. Kegiatannya lebih banyak fun saja untuk menghibur anak-anak," kata Abdul Khair, Kepsek Sekolah Alam Anak Soleh, Rabu (24/12/2014).

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Taman Baca Masyarakat untuk Banjarnegara

Tidak ada komentar
TBM (Taman Baca Masyarakat) merupakan sarana pembudayaan kegemaran membaca masyarakat yang menyediakan dan memberikan layanan di bidang bahan bacaan. Dilengkapi dengan ruangan untuk membaca, diskusi, bedah buku, menulis, dan kegiatan literasi lainnya, dan didukung oleh pengelola yang berperan sebagai motivator. Pembangunan TBM merupakan wujud dari upaya penguatan dan perluasan budaya membaca karena buku adalah salah satu cara untuk mendidik generasi berikutnya, menanamkan kepribadian, etos kerja, dan integritas diri. Bacaan yang baik akan membuka mata, dan menumbuhkan antusiasme anak-anak hingga orang dewasa. Oleh karena itu diharapkan masyarakat akan tumbuh dengan pemahaman yang baik melalui buku-buku baik tersebut. Selain itu TBM dapat pula dijadikan salah satu sarana edukasi informal diluar sekolah dan lembaga pendidikan lainnya, oleh sebab itu berdirinya TBM di suatu lingkungan bermasyarakat menjadi sebuah urgensi dalam upaya menumbuhkan budaya literasi, nilai-nilai sosial, dan edukasi.

Jambore Anak Tangguh Banjarnegara

Taman Baca Masyarakat untuk Banjarnegara
Relawan di Banjarnegara
Sekolah Raya sebagai sebuah jejaring komunitas yang fokus terhadap kegiatan sosial berbasis pendidikan, menginisiasi pembangunan TBM di desa Jemblung, Banjarnegara.Bencana alam longsor di Banjarnegara pada tanggal 13 Desember lalu telah meluluhlantakkan desa Jemblung, ratusan penduduk kehilangan tempat tinggal dan mangalami trauma psikososial. Pembangunan TBM di desa Jemblung merupakan upaya program recovery paska bencana. Dalam jangka panjang, eksistensi TBM diharapkan mampu mengembalikan roda kehidupan sosial masyarakat dalam upaya pemulihan desa  serta dapat mengembalikan rasa optimisme dan percaya diri masyarakat melalui buku-buku inspiratif dan kegiatan edukatif diTBM.

Taman Baca Masyarakat untuk Banjarnegara
Relawan di Banjarnegara
Taman Baca Masyarakat untuk Banjarnegara
Relawan di Banjarnegara
TUJUAN
1. Menumbuhkan budaya literasi;
2. Menciptakan ruang edukasi, meningkatkan kreatifitas, dan sosialisasi bagi masyarakat setempat;
3. Sebagai upaya recovery paska bencana.

KEGIATAN
Proses identifikasi, perencanaan, dan pengumpulan donasi dimulai pada bulan Desember 2014 dan penyerahan donasi pembangunan TBM secara simbolis akan dilaksanakan tanggal 29 Desember 2014 pada saat penutupan acara “Jambore Anak Tangguh” (merupakan serangkaian kegiatan Sekolah Raya dalam upaya pemulihan trauma psikososial bagi anak-anak korban bencana longsor di Banjarnegara).

KONSEP TAMAN BACA MASYARAKAT
TBM terdiri dari 3 besaran ruang dengan taman bermain di depan bangunannya. Adapun ruangan tersebut adalah:

Ruang Baca
Berisi koleksi buku-buku TBM dan sebagai ruang membaca,terdapat sofa ataupun bisa membaca secara lesehan
Ruang Kreasi
Terdapat mading kreasi sebagai display pameran kreasi anak/masyarakat di bidang literasi atau ketrampilan lainnya, terdapat lemari yang berisi mainan edukatif sebagi penunjang kegiatan edukasi di TBM. Ruang kreasi juga sebagai tempat apresiasi dari karya literasi (misalnya mendongeng).

Kegiatan ini merupakan kegiatan bersama yang melibatkan banyak pihak, sehingga keberhasilan kegiatan ini tidak akan terwujud tanpa dukungan, bantuan dan kerjasama dari berbagai pihak dalam penyelenggaran.

PARTISIPASI
Bantuan dapat diserahkan secara tunai maupun transfer melalui rekening:
a.n MUHAMMAD ANWAR
BCA # 2060 149651
CP: 0889 1676 309

Proposal lengkap dapat diunduh di SINI [PDF file 414kb]


Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Mengabadikan visual, Menceritakan jejak, Merayakan keberagaman

Tidak ada komentar
sekolah raya Mengabadikan visual, Menceritakan jejak, Merayakan keberagaman

sekolah raya Mengabadikan visual, Menceritakan jejak, Merayakan keberagaman

Minggu, 7 Desember 2014 adalah hari dimana Acara ini berlangsung, ratusan orang yang terdiri dari anak-anak SD sampai orang dewasa  yang berisi para Relawan, Instruktur dan Peserta workshop berbaur menjadi satu. Mereka datang bukan tanpa alasan, mereka datang karena percaya bahwa perubahan positif akan datang, terlebih dalam bidang pendidikan. Tentunya dengan suasana yang suka cita.

Sekolah Raya dengan Project nya yang sedang berlangsung (“MEREKAM JEJAK KAMPUNG DALAM KALENG”) mencoba untuk mengingatkan dan ingin menyelaraskan pandangan bahwa pendidikan tidak harus selalu tentang Matematika, Fisika dan Kimia dengan rumus baku yang bikin pusing kepala. Budaya, peninggalan sejarah, Lingkungan dan Alam pun tak luput dari ruang yang seharusnya di ekspos dalam pembelajaran kita semua. Yang dimana itu termasuk dalam satu point tujuan dari project ini: Meningkatkan dan menumbuhkan kecintaan peserta didik pada kampung tempat tinggalnya.

Workshop Kamera Lubang Jarum di Bundaran HI yang bertepatan dengan Car Free Day kemarin, diselenggarakan oleh Sekolah Raya yang bekerja sama dengan beberapa komunitas seperti: Sekolah Alam Anak Sholeh, Komunitas Lubang Jarum Indonesia , SMP Terbuka Samudera Jaya, Pondok Yatim Darussalam, Sobat Kolong, Sanggar HPPL, KMF Kalacitra, Flamboyan UNJ,  Ranita UIN, Blogfam dan KFB adalah langkah awal untuk mewujudkan harapan yang di cita-citakan. Yaitu menciptakan kepedulian anak-anak terhadap kampung atau lingkungannya sendiri, karena berawal dari rasa peduli, mereka akan tumbuh menjadi orang yang lebih kritis disertai dengan rasa ingin membangun perubahan pada lingkungannya.

Lebih dari 100 anak kesana-kemari untuk mencari objek yang ingin difoto dengan kamera kaleng yang diciptakannya sendiri. Mencari spot yang cantik untuk merealisasikan imaji nya kedalam sebuah kertas foto hitam putih yang tidak sedikit kecewa dengan karya yang dihasilkan karena ada yang over ataupun under setelah melalui tahap develop dikamar gelap dan tentunya lebih banyak dari mereka yang merasa puas dengan karya yang diciptakan, dengan bangga mereka berteriak-teriak untuk menunjukkan kegembiraannya karena merasa berhasil dengan perjuangannya. Seru.

Tidak sampai disitu, teman-teman dari Blogfam pun memberikan tips dengan sharing bagaimana cara membuat sebuah cerita tentang karya-karya lubang jarum yang telah mereka ciptakan. Karena sejujurnya, Kamera Lubang Jarum adalah sebuah media yang menekankan cerita pada setiap lembar karyanya. Tentu saja ini bagus untuk membangkitkan kembali budaya bertutur yang sudah tidak banyak diajarkan disekolah. (Arie Haryana)

Sekolah Raya


Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Sekolah raya: Merayakan Kehidupan

1 komentar
KOMPAS.com - Siang telah menjelang, Selasa (25/11/2014). Riuh suara anak-anak terdengar dari dua ruang kelas Sekolah Dasar Alam Anak Soleh di Desa Setia Asih, Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Sekitar 90 siswa-siswi ditampung dalam dua ruangan yang masing-masing berukuran 4 x 6 meter persegi itu. Satu ruangan digunakan para murid kelas I, II, dan III, sementara satu ruangan lain untuk murid kelas IV, V, dan VI.

Ridwan (18) berada di salah satu ruangan tersebut. Ia yang telah bersekolah selama delapan tahun memang sedikit berbeda daripada siswa lainnya.

Tingkahnya berubah saat melihat sebuah kamera digital. Tangan kanannya dijulurkan. Bak fotografer profesional, siswa yang belum bisa membaca ini menyandangkan tali kamera ke bahu, lalu menghadapkan kamera ke teman-temannya.

Klik. Setelah mengambil foto dengan posisi diagonal, kamera lalu ditegakkan, mencoba teknik portrait. ”Ridwan juga tahu bagaimana mengukur pencahayaan. Kapan foto itu bisa backlight atau tidak,” ucap Agustian (41), salah satu pendiri sekolah alam ini. ”Ia bahkan pernah memenangi lomba foto lubang jarum yang kami adakan.”

Ridwan dan siswa lainnya memang mendapatkan pelajaran tematik berupa fotografi, khususnya memotret dengan kamera lubang jarum.

Kamera yang bisa dibuat dari kaleng bekas sebagai bodi kamera, lempengan aluminium sebagai rana, dan plakban yang menjadi penutup rana itu menjadi kegiatan paling disukai Ridwan dan kawan-kawannya.

Dari kamera lubang jarum itu, Nugraha (15), salah satu teman seangkatan Ridwan, telah didaulat menjadi instruktur termuda Komunitas Lubang Jarum Indonesia.

Nugraha adalah lulusan pertama sekolah alam itu yang kini duduk di kelas II SMP Terbuka, Tarumajaya. Remaja ini pernah mewakili teman-temannya dalam festival foto bertaraf internasional di Bali tahun 2013.

Selain kamera lubang jarum, siswa-siswa di sekolah gratis ini juga diajarkan bercocok tanam di halaman depan sekolah. Meski hanya di sebidang tanah, teknik yang digunakan telah modern, yaitu teknik fertigasi. Teknik ini singkatan dari fertilitas dan irigasi, bagian dari metode hidroponik yang menghemat tempat dan pupuk, tetapi hasilnya optimal.

Sekolah ini, kata Agustian, sengaja mengajarkan hal-hal itu agar siswa-siswa memiliki kemampuan yang bisa diandalkan. Dengan demikian, mereka kelak bisa mandiri dan keluar dari lingkaran kemiskinan. Pasalnya, orangtua para siswa ini sebagian besar hanya bekerja sebagai buruh, pembantu, atau pemulung.

Berkat relawan

Sekolah alam ini terletak sekitar 10 kilometer dari Kota Bekasi atau 27 km dari Jakarta, didirikan tahun 2006. Hingga saat ini, sekolah alam tersebut empat kali berpindah tempat.

”Awalnya kami menyewa sebuah rumah, lalu pindah ke rumah warga yang kosong karena kontraknya habis. Kami juga pernah bersekolah di mushala,” kata Fitri Yanhi, satu dari tujuh guru di sekolah ini.

Para guru itu digaji sebesar Rp 300.000 per bulan dari sumbangan donatur. Gaji tersebut baru mulai mereka dapatkan tahun 2010, atau empat tahun sejak sekolah berdiri.

Sekolah gratis ini memang berbeda dengan sekolah lain. Di luar pendanaan yang mengandalkan donatur tak tetap, setiap akhir pekan sejumlah relawan datang mengajarkan hal baru.

Selain itu, sekolah ini terbuka bagi siapa saja. Setiap orang dengan beragam latar belakang agama, suku, dan ras bisa menjadi murid, guru, atau relawan.

Pada awal Desember mendatang, misalnya, sekolah ini akan kedatangan mahasiswa dari Universitas Katolik Daegu, Korea Selatan. ”Perbedaan itu pelengkap untuk memberikan perspektif yang luas terhadap kehidupan,” kata Agustian.

Bima (24), relawan yang telah ikut sejak 2013, tak pernah merasa ada masalah dengan perbedaan tersebut.

Sekolah raya

Keinginan untuk berbagi dan menularkan semangat yang ada dari sekolah alam ini mendapat sambutan dari sejumlah komunitas. Pada September lalu, 12 komunitas mengukuhkan diri dalam sebuah wadah yang mereka namakan Sekolah Raya.

Bersama komunitas yang tersebar mulai dari Bekasi, Jakarta, hingga Kota Malang di Jawa Timur, Sekolah Raya ingin memberi pengajaran kepada anak-anak jalanan, anak yatim, dan anak-anak tanpa materi berlebih lainnya.

Nana Zuri, Direktur Program Sekolah Raya, menyampaikan, setiap komunitas yang tergabung dalam Sekolah Raya bukan komunitas baru. Mereka mempunyai visi yang sama setelah melihat perkembangan kurikulum dari sekolah alam.

Hingga saat ini telah ada sekitar 400 relawan dari sejumlah komunitas yang tergabung dalam Sekolah Raya. Satu hal yang ditekankan dalam setiap program pengajaran, hal yang didapatkan harus dibagi dan diajarkan kepada orang lain.

Mereka tak ingin anak-anak itu hanya menerima tanpa berbuat sesuatu. Sebab, mereka menyadari, berbagi dan menerima adalah satu-kesatuan yang utuh.


CATATAN:
Tulisan ini pernah dimuat dengan judul yang sama di Harian Kompas edisi Senin (1/12/2014).


Tulisan ini adalah copy dari artikel Kompas berjudul Sekolah Alam Bekasi: Melintas Batas, Merayakan Kehidupan (Jumat, 5 Desember 2014) Oleh Saiful Rijal Yunus. http://megapolitan.kompas.com/read/2014/12/05/19245711/Sekolah.Alam.Bekasi.Melintas.Batas.Merayakan.Kehidupan

Sekolah raya Merayakan Kehidupan kompas

1 komentar :

Posting Komentar

HUNTING BARENG KAMERA LUBANG JARUM

Tidak ada komentar
HUNTING BARENG KAMERA LUBANG JARUM


7 Desember 2014 Sekolah Raya akan mengadakan Hunting Bareng Kamera Lubang Jarum, ini merupakan kegiatan memotret objek bebas yang ada di sekitar Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, bersamaan dengan car free day. Kegiatan ini bertujuan untuk mengajak peserta didik Sekolah Raya agar lebih mahir menggunakan Kamera Lubang Jarum serta melatih peserta didik untuk dapat menggali informasi mengenai objek yang diambil, kemudian menuliskan cerita tentang objek yang sudah direkam menggunakan Kamera Lubang Jarum. Karena dalam projek “MEREKAM JEJAK KAMPUNG DALAM KALENG” para peserta didik harus mampu mengambil objek kampung dengan baik kemudian menggali informasi mengenai objek di kampung lalu menuliskannya menjadi sebuah cerita.

Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk mempertemukan para peserta didik dari berbagai afiliasi Sekolah Raya agar terjalin silaturahmi antar sesama peserta didik Sekolah Raya.

TUJUAN KEGIATAN

Mengajarkan konsep dasar fotografi dengan kamera lubang jarum, membuat kamera lubang jarum, dan memotret dengan kamera lubang jarum.
  • Mengenalkan para peserta didik mengenai sejarah kampungnya masing-masing
  • Mengenalkan peserta didik pada seni budaya lokal
  • Mengenalkan peserta didik pada situs/peninggalan sejarah yang ada di kampungnya
  • Meningkatkan dan menumbuhkan kecintaan peserta didik pada kampung tempat tinggalnya
TARGET UTAMA KEGIATAN

  • Pameran Fotografi Kamera Lubang Jarum Sekolah Raya “MEREKAM JEJAK KAMPUNG DALAM KALENG” pada bulan Juli 2015.
  • Launching buku fotografi “MEREKAM JEJAK KAMPUNG DALAM KALENG” pada bulan Juli 2015 bersamaan dengan pameran fotografi dengan tema serupa.
PESERTA
Estimasi peserta 175 orang yang berasal dari:
Sekolah Alam Anak Sholeh, Bekasi
SMP Terbuka Hurip Jaya, Bekasi
Pondok Yatim Darussalam Bekasi
Sobat Kolong, Grogol, Jakarta Barat
Sanggar HPPL, Menteng
KMF Kalacitra
KLJ Indonesia
Flamboyan UNJ
Ranita UIN Jakarta
Dll

Untuk mendukung agenda ini kami membuka kesempatan untuk kawan-kawan untuk perperan serta melalui donasi transportasi dll.

Kontak:
Agus Tian : 081 286 041 960)
Nana : 081 805 044 556)
Anwar : 081 805 022 996)
Email : info@sekolahraya.net



Tidak ada komentar :

Posting Komentar