Sekolah Raya

Membangun ke-Indonesia-an Melalui Jendela Pendidikan Berbasis Alam Dan Budaya

TENTANG SEKOLAH RAYA

1 komentar

SEKOLAH RAYA - MERETAS DESAIN PENDIDIKAN INDONESIA

Saat ini kondisi situasi sosial yang komplek dan ketidakmenentuan, tidak bisa lagi diurus oleh satu pihak. Baik hanya dengan mengandalkan institusi pemerintah saja, maupun satu pihak kampus, lembaga sosial, individu kreatif, perusahaan dan pihak-pihak yang telah mempraktekkan aksi perubahan sosial.

Memaknai perubahan adalah suatu proses mencipta dan memahami pentingnya kreatifitas. Kita perlu membudayakan memperkaya gagasan, melahirkan tindakan yang melahirkan pengalaman dan pengetahuan baru yang berdampak nyata secara kolektif. 

Disisi lain, kita menemukan ada pribadi-pribadi, komunitas, organisasi yang senantiasa berani memulai gagasan kecil, sederhana, bervisi besar, bersedia mengerjakan dengan sepenuh hati mencapai tujuan terbaiknya. Itu adalah bentuk-bentuk aksi nyata yang selama ini cenderung berada di “lorong sunyi” yang belum dilihat sebagai sumber inspirasi oleh orang-orang lain.

Begitu juga dengan memberikan kesempatan yang sama bagi tiap orang untuk meningkatkan kapasitasnya, melahirkan imajinasi baru negeri merdeka yang inspiratif perlu dilakukan tanpa membeda-bedakan latar belakang agama, ras, suku, organisasi dan golongan/kelompok serta bahasanya.

Dengan spirit kebersamaan dalam beraksi dan solidaritas sosial lainnya, dibutuhkan kekuatan multi pihak yang bersedia bertekad, berkomitmen dan berkontribusi nyata demi mewujudkan negeri yang berdaya dan berjaya demi kemakmuran untuk warga negaranya.

Dimanakah ”negeri” itu? Saat ini bukan lagi waktu untuk kita mematok bahwa perubahan harus diawali dari puncak menara gading, dari wilayah yang dekat dengan pusat kekuasaan. Negeri bernama Indonesia bukan lagi kita pandang segala-galanya dimulai dari ibukota, Jakarta.

Namun negeri yang harus kita bangun adalah ruang wilayah terdekat yang ada pada lingkungan kita. Di desa, di kampung, di nagari, disitulah ruang wilayah konkrit untuk kita berkontribusi. Kita membutuhkan motor-motor perubahan lokal, yang bersedia ”turun gunung” berada diantara masyarakat sekitarnya.

Bersedia menggerakkan segala potensi alam, budaya, sosial dan ekonomi dengan cara-cara kebaikan, salah satunya adalah melalui jalan pendidikan.

Kita juga tidak bisa memaksa masyarakat banyak untuk mengatur dirinya sendiri, yang bisa kita lakukan adalah membina kelompok kecil menjadi generator perubahan sosial di wilayahnya. Kita membutuhkan tim kecil yang berdaya dan senantiasa bergerak pada ruang lingkup sosial terkecil yakni desa atau kampung, sebagai proses melipatgandakan kecepatan kemajuan bangsa.

“Pendidikan bukan lagi menjadi menara gading, tapi mimpi yang berkaki 
pada kenyataan di masyarakat”.
Bukik Setiawan – Indonesia Bercerita

Jika kita tarik kembali ke pandangan mendasar, dimana sesungguhnya ruang wilayah Indonesia? Siapa yang seharusnya berperan aktif dalam pembangunan suatu wilayah? Bagaimana mengenali interaksi sosial bukan hanya secara rasionalitas namun juga secara “akar rasa kebudayaan” dari antar individu yang terlibat didalamnya?

Indonesia memiliki bentang wilayah alam yang sangat luas dan tercatat sebagai Negara dengan keberagaman budaya (cultural diversity) serta keragaman alam (bio-diversity) paling banyak di dunia. Keberagaman tersebut akan terjaga apabila kualitas sumber daya manusia Indonesia menjalin korelasi harmoni dengan lingkungan terdekatnya. Seperti pada era leluhur nenek moyang bangsa Indonesia yang hidup sangat erat, harmonis berdampingan dan selalu seimbang dengan alam budaya. 

Pendidikan adalah metode dasar mencetak sumber daya manusia Indonesia berkualitas dalam mengelola, menjaga dan melestarikannya secara berkelanjutan. Kurikulum pendidikan Indonesia yang diterapkan di sekolah-sekolah formal dibentuk terpusat oleh Kementrian Pendidikan Nasional di Jakarta. Dari tingkat paling mendasar sampai jenjang perguruan tinggi, hanya sedikit penyertaan muatan pendidikan berdasarkan kebutuhan dan tantangan masyarakat di tingkatan lokal.

Desain pendidikan “nasional”, mengakibatkan kesenjangan antara pusat (Jakarta) dan daerah, antara ruang kota dan desa. Hal ini yang mengakibatkan anggapan jamak bahwa, kualitas sumber daya manusia dari pusat/kota adalah lebih baik daripada yang ada di daerah/desa. Desain tersebut belum mampu menjawab tantangan potensi dan permasalahan ke-Indonesia-an ditingkatan lokal, tidak berdasarkan demografi serta topografi yang berbeda-beda di setiap wilayah Indonesia.

Keterkaitan keberagaman dalam konteks ke-Indonesia-an musti kita mulai dengan mengubah cara pandang bahwa ruang wilayah sesungguhnya ada di Desa atau kampong. Potensi, sumber daya alam, budaya, kompleksitas permasalahan dan disinilah sistem sosial terkecil ketika antar pribadi dan keluarga menjadi terhubung. Dalam kerangka ruang kota, sebenarnya konsep kota itu sendiri juga niscaya jika melihat wilayah-wilayah perkampungan besar di Indonesia. 

Desa atau kampung menjadi pijakan yang penting untuk menjadi pilihan utama dalam menguatkan dan melipatgandakan kekuatan perubahan yang diiinginkan. Mari kita membayangkan setiap kota di Indonesia bisa menjadikan tiap desa/kampung menjadi berdaya dan setara dengan beragam multi minatnya. 

Disinilah Sekolah Raya hadir, jangan membayangkan bahwa kata “sekolah“ identik dengan gedung, sarana belajar & kelulusan siswa semata. Sekolah Raya adalah mekanisme menggerakkan jejaring afiliasi, dari sekolah umum, taman pendidikan, sanggar belajar, taman baca, pondok pesantren maupun padepokan. Bersama-sama relawan didalamnya menerapkan desain kurikulum pendidikan dengan media utama belajar adalah alam dan budaya.

VISI
Membangun ke-Indonesia-an Melaui Jendela Pendidikan

MISI
Mendesain Kurikulum Berbasis Alam Dan Budaya Berdasarkan Potensi Demografi

PERIHAL SEKOLAH RAYA

  • Proses kegiatan belajar bersama bagi “JEJARING” untuk melengkapi proses pembelajaran utama yang sudah ada didalamnya.
  • Jejaring adalah sekolah formal (SD-SMA sederajat), Taman Pendidikan (TPQ), Padepokan, Pondok Pesantren, Sanggar Belajar atau Taman Baca yang mempunyai komitmen utama menyelenggarakan proses belajar mengajar bagi lingkungan disekitarnya dengan orientasi sosial, bukan mengejar keuntungan dari lembaga pendidikan yang dibuatnya.
  • Jejaring didorong melakukan pemetaan demografi dan topografi untuk mengetahui kebutuhan kurikulum pendidikan alam dan budaya pada tiap wilayahnya.
  • §  Berdasarkan pemetaan tersebut, Sekolah Raya akan menginformasikan melalui situs website (www.sekolahraya.net) dan mendistribusikan relawan kepada masing-masing jejaring.
  • Sekolah Raya tidak turut serta dalam proses internal management masing-masing jejaring, misalnya proses penerimaan siswa, struktur organisasi sekolah, alur operasional, kebijakan teknis dan beberapa hal teknis lainnya.



RELAWAN SEKOLAH RAYA

  • Sekolah Raya berbasis ke-relawan-an yang terdiri dari :
  • Pengelola/manajemen internal jejaring, termasuk guru/pengajar yang ada didalamnya
  • Pengajar dari eksternal, bisa dari unsur mahasiswa, akademisi maupun professional yang ingin membagi keahlian sesuai kebutuhan berdasarkan pemetaan alam dan budaya jejaring
  • Jaringan donator berkelanjutan, baik dukungan berupa anggaran, sarana dan prasarana berdasarkan kebutuhan jejaring
  • Relawan harus didasari oleh 2 hal sebagai berikut ;

  1.  KEMAUAN. Setiap hal jika diawali pada kemauan akan menjadi modal dasar untuk perubahan yang lebih baik.
  2.  KEMAMPUAN. Dibutuhkan fokus dan konsistensi untuk mencapai tujuan yang diinginkan bersama. Kemampuan setiap personal dalam membagi waktu dan energi sebagai pengajar sangat penting dibutuhkan.

KONTEKS OBJEKTIF SEKOLAH RAYA

  • Bobot pembelajaran di sekolah raya adalah 60% kurikulum formal, 40% kurikulum berbasis alam dan budaya dimana jejaring berada.
  • Tujuannya untuk peningkatan mutu SDM (Sumber Daya Manusia) agar lebih memahami kompleksitas dan menjadi manfaat pada lingkup wilayah terkecil yakni Desa atau Kampung.
  • Hasil yang ingin kami capai pada pembelajaran SEKOLAH RAYA yaitu :
  •  Memahami dasar teori ilmu pengetahuan dan mampu mengaplikasikannya secara kreatif berbasis kelokalan (Think Global Act Local)
  •  Meluasnya wawasan, pola fikir dan pola pandang dari proses berbagi pengalaman antar pengelola-pengajar dan peserta belajar (Learn to Learn)
  •  Mampu mengubah perilaku dan daya improvisasi dalam mengelola potensi yang ada ataupun memecahkan suatu permasalahan (Smart Improvitation)



NILAI – NILAI SEKOLAH RAYA

  •  Andalan, bahwa tiap orang di Sekolah Raya berkualitas unggul pada bidang & tanggungjawabnya.
  • Dialog, setiap individu percaya bahwa komunikasi efektif yang mampu menciptakan perubahan .
  • Entrepreneurship, selalu berkreasi & berinovasi tiada henti untuk keberlanjutan gerakan.
  • Matching, selalu fleksibel & beradaptasi demi mencapai tujuan bersama.

PRODUK SOSIAL

  • Desain kurikulum life skill bagi peserta belajar, pengelola, guru & relawan
  • Indikator pencapaian sekolah raya berkorelasi dengan sistem informasi desa
  • Database relawan, jurnal pembelajaran (offline & digital), riset & teknologi
  • Konseling sistem pembelajaran diluar jejaring

INDIKATOR KINERJA

  • Pada tahun pertama program dan aktivitas menjangkau :
    • SD Alam Anak Sholeh, desa Setiasih Tarumajaya Bekasi
    • SMP Terbuka Babelan Bekasi
    • Taman Baca Muaragembong Bekasi
    • MTS di desa Ngabab Pujon Malang
    • Taman Pendidikan Al-qur’an desa Ngabab Pujon Malang
    • Sanggar Belajar Kampung di Kota Batu, Malang
    • Sanggar Kampung Kasembon Malang
  • Mengembangkan peta potensi yang sudah ada : Kamera Lubang Jarum, Urban Farming, Mangrove, Pramuka, Budaya Sungai, Pertanian Tambak, pengolahan Sampah, Pariwisata dan Industri Kreatif dari potensi alam.
  • Keberadaan Sekolah Raya akan berkorelasi dengan Sistem Informasi Desa dan secara berkelanjutan akan terus terkabarkan secara online di www.sekolahraya.net serta website milik masing-masing jejaring.

INDIKATOR BERKELANJUTAN

  • Sekolah Raya merekrut dan meningkatkan pengetahuan melalui Jambore Relawan secara rutin
  • Mengelola sumber daya relawan melalui identifikasi keahlian dan mengalokasikan ke masing-masing jejaring.
  • Sekolah Raya mampu menarik minat sumber daya pembelajar, peserta belajar dan donatur operasional untuk keberlanjutan jejaring
  • Sekolah Raya society menjadi wadah “social incubator” dan sumber informasi utama untuk perkembangan serta kemajuan situasi sosial jejaring
  • Terbentuknya jaringan fundrising & kontribusi informasi dari jagat digital yang mendukung program-program Sekolah Raya
  • Sekolah Raya society mempunyai identitas khusus, misalnya dari branding logo pada seragam, papan nama, website sekolah, dst.
  • Portofolio Sekolah Raya rutin terpublikasi pada media digital www.sekolahraya.net

Sekolah Raya mengambil makna filosofis “tukang tambal ban”, yakni menambal & mengisi kebocoran akomodasi pendidikan yang belum mampu ditangani oleh sistem desain pendidikan Indonesia. Sekolah Raya hadir pada ruang terdekat dengan masyarakat, yakni interaksi sosial desa atau kampung dengan media utama belajar adalah alam dan budaya.

Demikian gagasan Sekolah Raya ini kami susun, semoga alam semesta mendukung secara positif kemajuan generasi sumber daya manusia Indonesia pada masa mendatang.

Salam Kebaikan.

Jakarta, 8 Agustus 2014

1 komentar :